Surat Cinta Tanpa Nama


            Kepadamu.
            Yang tidak akan saya sebutkan.
            Sebenarnya saya tidak berencana menuliskan ini sama sekali. Saya lelah setelah melalui perjalanan yang panjang. Saya rasa di jam-jam seperti ini; kamu yang dulunya gemar tidur pasti sudah terlelap dengan pulas. Saya tidak tahu dengan keadaanmu sekarang. Saya hanya bisa melihatmu hidup dari tulisan di whatsapp yang bergerak menunjukkan kapan kamu terakhir kali aktif. Dan juga dari snapgrammu yang masih sesekali muncul. Saya bisa saja kembali membuat janji denganmu. Kamu tahu, saya paling gemar melakukan itu setelah kamu membuat keputusan tidak lagi bersama-sama saya beberapa bulan yang lalu. Sudah lama sekali ya rasanya.
            Beberapa minggu yang lalu saya masih mengirimkanmu surat. Salah seorang teman saya berkata, kalau kamu tidak bisa mengungkapkan semua yang kamu rasakan, coba dituliskan. Saya membawakanmu sebuah surat dua lembar dengan memakai kertas doraemon dan kamu membacanya tepat di depan mata saya. Saya ingat dengan jelas, saya berusaha memilah kata-kata mana yang harus saya gunakan di surat itu. Saya tidak mau dengan beraninya saya menulis surat, kamu akan semakin jauh mengambil langkah setelahnya.
            Dengan mengumpulkan segenap keberanian yang menjadi semakin ciut setelah kamu babat habis tempo dulu, saya dengan sepasang mata sembab saya memberanikan diri menenemuimu. Jujur saja, setiap bertemu kamu saya selalu ingin berhambur kepelukanmu. Di tengah riuh kejahatan di kota kita, saya rasa satu-satunya cara tetap merasa aman adalah dengan berada dipelukanmu. Sayangnya keyakinan itu tidak boleh terus menerus tumbuh. Karena kita, sekali lagi bukan apa-apa. Saya pun selalu menahan diri untuk mengajakmu bertemu. Sebab entah mengapa, setiap kita bersama saya selalu merasa kamu dingin sekali. Kamu tertawa bukan, kalau saya mengumpamakan kamu dengan bulan Desember yang payah dan dingin itu? Kamu selalu tertawa. Kamu tidak merasa seperti itu. Memang, tapi saya yang paling merasakan perubahanmu. Teman saya lagi lagi bilang, kamu sudah cukup benar melakukan tugasmu sebagai seorang mantan, yaitu berubah. Dia bilang, kalau kamu masih saja mempedulikanku dan rindu-rindu kurang ajarku itu, kamu gagal sebagai mantan. Saya benci kata mantan. Apalagi setelah itu melekat di kamu.
            Saya sudah mencoba untuk melakukan pengalihan seperti yang kamu lakukan. Percayalah, saya juga ingin berpindah sepertimu. Saya pernah pura-pura jatuh cinta sama orang lain. Saya pernah pura-pura menyukai lelaki lain. Tapi pada akhirnya usaha saya gagal. Saya runtuh dan saya rasa cara itu salah. Saya mengubah strategi. Seperti kamu yang selalu memarahi saya ketika saya bilang saya hanya di rumah dan membusuk, saya mulai mencari kegiatan lain. Saya tidak menjadi ketua sebuah UKM seperti kamu. Karena saya bukan lagi mahasiswa. Saya pengangguran dan kamu tahu itu. Saya tidak bermain kartu sampai tengah malam seperti yang kamu lakukan, karena saya tidak punya teman banyak sepertimu. Saya hanya bisa menulis dan sesekali bercerita sama seseorang. Orang yang mengenalmu ketika kita masih bersama. Orang yang membawakan saya dua potong burger murah di jalan, hanya untuk berkata; jangan galau terus!
            Saya rasa merencanakan berpindah darimu adalah perihal yang mustahil saya lakukan. Saya menyimpanmu dalam sekali selama ini. Sampai saat ini. Saya pun tahu, saya tidak perlu bertanya di mana saya, di hatimu. Karena saya takut. Takut sekali. Jangan-jangan saya bahkan sudah tidak lagi berada di situ. Dan ada orang lain yang masuk, menerobos, dan seenaknya mengambil tempat saya yang dulu.
            Pada akhirnya, apapun yang saya tuliskan ini adalah upaya saya untuk tetap mengingatmu sebagai orang yang baik. Saya masih sayang kamu dan itu akan selalu. Meski kamu akan selalu tertawa remeh ketika saya berulang-ulang memberitahumu itu. Saya mau kamu bahagia, dengan cara apapun. Kelak, jika ada perempuan lain yang bisa jauh lebih baik dari saya, saya mau kamu tahu; saya pernah berjuang untuk itu. Saya mau kamu tetap sehat, tidak banyak mengeluh lagi soal bobot tubuhmu, menyelesaikan apa yang harus kamu selesaikan, dan jikapun kamu jatuh cinta sama seseorang (saya tahu suatu saat kamu akan) saya harap kamu menjatuhkan dirimu di tempat yang benar. Perempuan baik yang kamu impikan; yang suaranya tidak besar dan membuatmu malu di keramaian, yang pakaiannya sopan dan membuatmu nyaman, yang tahu banyak dan bisa mengimbangimu dalam hal kepintaran—yang kesemuanya gagal saya lakukan.
            Selamat malam.

            Semoga tidurmu nyenyak. Di manapun kamu berada.



Menuliskan Tentang Apapun yang Dirindukan


            Hari ketiga dari #7harimenulis. Hari ini kita diminta untuk menuliskan apapun yang sedang dirindukan. Saya kadang tidak tahu bagaimana harus memulainya. Semua seperti jalan panjang yang sudah saya lupa pernah bermula dari mana. Tapi saya akan mencoba menceritakannya pelan-pelan. Agar siapapun kamu yang sedang membaca ini bisa paham dan pesan yang saya maksudkan bisa sampai. Semoga saja.
            Berbicara mengenai apapun yang sedang saya rindukan sebenarnya tidak terlalu penting. Karena saya tidak mau perasaan rindu ini berkecamuk, memasukkan saya ke dalam pusara dan membuat saya berputar-putar, dan berakhir dengan tenggelam. Sejak beberapa bulan yang lalu, saya sudah memantapkan diri untuk menutupi apapun yang sedang saya rindukan agar tidak terlalu mengganggu orang lain. Agar tidak mudah dibaca oleh siapa saja.
            Mari kita membahas hal-hal paling dekat dan baru-baru ini terjadi. Sebenarnya saya sedang dalam proses belajar melupakan yang entah apakah akan berhasil atau tidak. Kata teman saya jangan dilupakan, tapi diikhlaskan. Kata saya, kalau saya lupa otomatis saya bisa ikhlas. Dia selalu saja mendebat. Menyuruh berpindah secepatnya. Mengemasi barang sesegera mungkin. Lama lama kamu begini, nanti dia terganggu. Iya juga, lama lama saya mencari kabarnya karena alasan rindu akan membuat dia menjadi semakin terusik. Saya tidak mau dia tambah benci sama saya. Setelah apa yang saya perbuat—yang sampai saat ini diyakini teman saya bukan salah saya sepenuhnya—saya merasa saya tidak berhak terlalu menjadi benalu dalam hidupnya. Apa apa musti memikirkan perasaan saya dulu. Untungnya dia santai, dengan mudah menjauh dan pelan-pelan bersiap pergi.
            Kadangkala saya benci jika harus mengakui saya rindu sama dia. Saya pikir saya tahan untuk tidak berkomunikasi sama dia. Saya pikir saya tahan untuk tidak mengechat dia duluan di whatsapp ketika di sana tertulis online. Saya pikir saya tahan untuk tidak bertemu beberapa minggu sama dia. Toh dia juga tidak lagi mencari saya. Ini sebenarnya bisa mematikan saya kapan saja. Seandainya rindu bisa diatur harus jatuh di mana, sama seperti cinta. Sayangnya saya tidak sekuat itu. Lagi lagi, dia masuk ke dalam mimpi. Usut punya usut, teman saya bilang itu tandanya dia yang sedang rindu sama saya. Kepala saya tidak menjadi besar seketika, diberitahu seperti itu. Saya bilang, mana mungkin dia rindu. Ingat saja barangkali sudah tidak sempat. Dia kan sibuk. Sudah dikelilingi banyak perempuan, teman-teman yang bisa menemaninya berbicara sampai tengah malam. Menemani dia main kartu sampai dia lupa tidur dan saya membayangkan matanya menjadi hitam dan berkantung.
            Beberapa hal yang saya rindukan dengan dia—selain perdebatan kami yang sengit ketika jumpa—adalah beberapa hal yang masih selalu mengganggu saya di tengah-tengah malam. Ketika saya rindu dan tidak bisa apa-apa. Kejam sekali ya kedengarannya. Tapi begitulah adanya. Baiklah saya akan coba menuliskan beberapa rindu itu, biar lega. Biar setelah ini saya bisa tersenyum dan merasa lebih baik.
            Saya merindukan dia ketika dia bercerita panjang lebar mengenai sesuatu yang sangat menarik buatnya. Walaupun harus diakui, kalau dari 100% cerita yang dia keluarkan, hanya sekitar 70-80% yang bisa saya cerna. Saya juga mengakui dia banyak tahu daripada saya. Dia cerdas dan saya suka akan kecerdasannya. Saya pun paham dia punya dunia sendiri. Saya senang melihat matanya berkilat-kilat ketika menceritakan itu. Lagi-lagi dengan logat khasnya. Saya rindu saat saya kenyang dan makanan saya belum habis. Dia dengan sigap akan memakannya meskipun saya tahu dia juga sebenarnya sudah sangat kenyang. Saya rindu mendengarkan dia mengeluh betapa kurus tubuhnya sebanyak apapun yang dia makan. Saya rindu ketika membuatkan dia cokelat panas di malam hari dan dia akan mengomel karena airnya terlalu panas sampai dia tidak bisa meminumnya karena katanya akan membuat lidahnya melepuh. Saya juga begitu rindu melihat poni sebelah kanannya yang selalu jatuh dan selalu membuat dia jengkel. Lalu setelah itu dia akan bilang rambutnya benar-benar licin, atau rambutnya benar-benar sudah panjang dan harusnya segera dipotong. Saya rindu membuat kue bersama dia. Saya rindu ketika dia membantu saya menaruh adonan di plastik untuk dimasukkan ke dalam kulkas dan segera menunggu cheesecake itu jadi untuk saya jual di kampus keesokan harinya. Saya rindu melihat dia menumbuk bawang merah dan bawang putih untuk nasi goreng. Saya rindu ingin melihat dia memotong tomat kecil-kecil lagi seperti yang dia sering lakukan untuk diletakkannya di atas nasi goreng jika sudah jadi. Saya rindu melihat dia berkomentar apa saja tentang kue yang saya buat. Saya rindu dijemput di kampus tengah malam sama dia. Dan betapapun, saya rindu ketika dia yang lebih tinggi memeluk saya dengan sangat keras seperti saya akan meledak setelahnya.
            Saya sudah menuliskan itu. Semoga saja dia tidak akan membaca tulisan ini. Entah apa yang harus saya katakan ketika dia bertanya macam-macam. Saya sendiri paham, hal seperti itu hanya bisa dirindukan dan disimpan sendiri. Semacam kerinduan yang membatu di kepala dan mengendap di situ selamanya. Dia tidak akan pernah pergi. Dia tidak akan pernah benar-benar pergi.

            

Menceritakan 7 Lagu yang Tidak Bisa Dilupakan


            Sebenarnya saya tidak tahu harus menyebut ini #7harimenulis apa tidak. Karena saya terlambat melihatnya. Jadi saya akan memulai #7harimenulis atau bagi saya #6harimenulis ini dengan tema untuk hari kedua; menceritakan 7 lagu yang tidak bisa dilupakan.
            1. Banda Neira (Hujan di Mimpi)
            Saya pertama kali mendengarkan lagu ini ketika memasuki bangku kuliah. Makassar saat itu sedang memasuki bulan penghujan. Saya mendengarkannya keluar dari pengeras suara yang dihubungkan dengan komputer milik kakak saya. Kakak saya yang memperkenalkan lagu itu. Saya memutarnya berulang-ulang di pagi hari Makassar yang mendung. Seperti candu, lagu ini kembali terdengar di lorong-lorong koridor Kosmik yang dahulu masih ramai. Ramai dengan orang-orang yang menunggu dan bercerita. Ramai dengan suara gitar Kak Bahri. Ramai dengan omongan tidak penting teman-teman saya yang memaki karena jalan Makassar sedang macet gara-gara demo dan mereka tidak bisa pulang cepat.
            Ingatan saya masih lekat ketika hari itu hujan kembali mengguyur Makassar pada pukul 2 siang. Salah seorang yang entah siapa memutarkan lagu Banda Neira dan suaranya membesar di lirik bagian: Seperti kenangan akankah bertahan, atau perlahan menjadi lautan. Seperti hadirmu di kala gempa, jujur dan tanpa bersandiwara. Teduhnya seperti hujan di mimpi. Berdua kita berlari. Dan suara-suara lain akan melanjutkan, nananananana.. Dalam hujan deras, saya merasakan kehangatan. Saya rasa saya sudah tiba di tempat yang semua orang cari. Rumah.
            2. 5 Seconds of Summer (Amnesia)
            Aduh. Lagu ini. Bagaimana saya harus menceritakannya. Haha. Sudah lama sekali rasanya. Saat itu saya sedang suka-sukanya sama seseorang. Seseorang yang namanya bahkan tidak saya tahu sebelumnya. Saya hanya sering melihatnya. Berpapasan ketika keluar masuk kelas. Menelan ludah ketika mau menyapa tapi takut dibilang sok kenal. Betul juga, sok kenal. Hm. Memang nyatanya kami sama-sama tidak saling kenal.
            Waktu itu saya adalah seorang professional stalker. Ketika saya tahu namanya dari bisik-bisik tetangga sebelah, saya mulai mencarinya di semua media sosial. Sambil berharap dia tetap menggunakan nama aslinya. Dan usaha saya berbuah manis, saya menemukan twitternya. Saya menemukan lagu ini di salah satu twit. Saya pikir dia sedang galau ketika mendengarnya. Saya sempat penasaran orang seperti apa yang membuat dia galau. Tapi saya tidak mau ambil pusing. Saya mendownload lagu itu, mendengarnya berulang-ulang, mencari liriknya, dan menghapalnya. Sampai akhirnya saya bisa dekat dengan dia selama 1 tahun. Kemudian kami berpisah meski bahkan tidak pernah ada yang sempat dimulai. Hingga saat ini, namanya masih selalu berputar di kepala saya ketika mendengar lagu itu. Meski saya tidak tahu dia sekarang sudah berada di mana.
            3. Kodaline (All I Want)
            Sebenarnya saya tidak mau memasukkan lagu ini ke dalam list. Tapi karena memang ketika mendengar lagu ini, waktu seperti dipaksa mundur kembali. Muncul di situasi saat saya sedang bertengkar hebat dengan seseorang. Hidupnya terlalu mudah atau dia yang memang tidak pernah mau ambil pusing. Saat itu saya memakinya habis-habisan. Dia diam saja dimaki. Saya sudah lupa, kalimat apa yang meluncur begitu saja dari mulut saya hingga membuat dia juga ikut berang dan meninggikan suaranya. Kami saling berteriak dan saya memilih membanting pintu dan meninggalkannya sendirian.
            Saya tahu dia adalah orang yang tidak pernah mau peduli. Saya pergi dan di pagar, saya sempat menoleh. Jauh dalam hati kecil saya, saya masih berharap dia mengejar. Tapi tidak. Pengeras suara tetangganya tiba-tiba memutarkan lagu ini. All I want is nothing more. To hear you knocking at my door. Tiba-tiba saja saya berharap dia menyanyikan lagu itu juga. Meskipun saya tahu dia tidak akan melakukannya. Tidak akan pernah. Saya pulang dengan batu yang mengeras di dalam kepala.
            4. Ed Sheeran (All Of The Stars)
            Lagu ini mengingatkan saya dengan dua orang. Orang pertama adalah orang yang membuat saya menyukai bintang-bintang. Berkali-kali saya dan dia bertemu ketika malam hari. Kami tidak melakukan apa-apa. Hanya duduk dan saya memperhatikan dia mulai melukis sesuatu dengan jari telunjuknya di langit. Dia dengan matanya yang berbinar, mulai menyebutkan nama-nama bintang yang tidak kupaham artinya apa. Dia bilang, lihat. Sekarang sedang tanggal “sekian”, jadi malam ini bintang-bintangnya berbentuk “demikian”. Saya tidak mengerti tapi saya senang melihatnya senang saat menceritakan itu. Kadang kami duduk di tangga, menyaksikan orang lalu lalang sedang kami menikmati dunia yang kami buat sendiri.
            Orang kedua, tidak terlalu penting. Tapi saya akan menuliskannya karena ketika mengingat tokoh-tokoh dalam film ini, saya mengingat nama orang itu. Orang yang tiga bulan sempat bersama saya. Bersama dalam artian memiliki hubungan. Orang yang untuk diterima cintanya, dia terpaksa harus meminum dua botol besar tuak sampai wajahnya semerah kepiting rebus. Orang yang pada akhirnya meninggalkan saya begitu saja tanpa ada penjelasan lebih. Hanya sebuah email singkat yang berisi dia cemburu dengan seseorang yang lain karena melihat kami akrab di dunia maya dan dia tidak terima. Dan saya membalasnya dengan menyudahi hubungan kami.
            5. Sheila On 7 (Mudah Saja)
            Ketika mendengar lagu ini, saya menjadi tiba-tiba saja bahagia. Karena saat lagu ini dinyanyikan, saya berada tepat di depan vokalisnya. Perasaan yang harusnya tidak boleh dirasakan ketika lagu galau ini terputar. Oh iya, saat itu Sheila On 7 datang ke kota kecil tempat saya tumbuh dan berkembang. Kota itu kini sudah sangat maju. Sudah banyak hotel, ada pusat perbelanjaan, cafĂ©, dan tempat-tempat besar lainnya. Meski semakin ramai tapi masih tetap ada rasa didekap ketika mengunjunginya.
            Saat menonton konser Sheila On 7, saya ingat saya baru akan masuk kuliah. Untuk pertama kalinya, saya diperbolehkan keluar malam bersama laki-laki oleh mama saya. Laki-laki yang sekarang sudah jadi mantan saya itu, menjemput dan meminta izin baik-baik dengan mama. Karena saat itu kami hanya mengaku berteman, tentu saja mama memberi izin. Dan memang saat itu kami sudah berteman setelah 3 minggu yang lalu kami memutuskan untuk putus. Dia mengajak saya menonton konser Sheila On 7 karena tahu saya sangat menyukai suara vokalisnya. Tiba di lokasi, dia menjaga saya dengan baik meski tetap tidak melepaskan kameranya dari leher. Dia menarik saya tunduk ketika salah seorang petugas mulai menyirami kami dengan air. Ketika akan pulang, saya melihat bajunya basah. Lebih basah daripada baju saya. Saya tiba di rumah pukul 2 malam. Saya masuk dan dia masih di depan pagar. Saya mengintip dia di jendela. Saya melihat dia menggigil kedinginan lalu menggas motornya dan pulang. Sebelum saya pergi kuliah jauh, dia berbuat baik untuk terakhir kalinya.
            6. Adam Levine (Locked Away)
            Serasa perih perih begitu ketika mendengar lagu ini. Lagu yang pertama kali dinyanyikan seseorang pada saya suatu ketika. Lagu yang sampai sekarang ketika saya dengar, membuat saya ingin bersama dia lagi. Memintanya kembali. Mengulangnya dari awal lagi. Saya dan dia bertemu karena hal-hal yang menyenangkan. Bukan cinta yang memperburuk semuanya. Tapi karena saya yang gagal membuatnya tinggal lebih lama. 
            Dia orang yang menyenangkan. Awalnya kami berteman. Dia banyak menolong saya. Sampai ketika kami pun sudah memutusan bersama, dia masih tetap menolong saya. Dia orang yang baik sampai saya menyakitinya lagi dan lagi dan menjadikan itu alasan dia untuk pergi. Saat ini dia sudah mendapatkan tugas baru. Mendapatkan pengalihan baru. Dia sudah terbiasa menjalani 2 bulan tanpa saya. Kata Kak Rei, laki-laki juga galau. Tanya saya, berapa lama waktu yang dibutuhkan mereka untuk galau. Kak Rei bilang, tiga atau empat bulan. Dia akan terbangun dan sadar, oh iya ya, saya sama dia sudah tidak berpacaran lagi. Mereka juga sedih. Tapi kadang tidak ditampakkan. Selepas dua bulan yang kemarin, saya masih menanyakan kabarnya sesekali. Dia bilang dia sehat. Saya senang mendengar dia baik-baik saja. Dia tidak menanyakan keadaan saya. Barangkali agar saya tidak terlalu berharap lagi sama dia. Hehe..
            7. Ed Sheeran (Happier)
            Lagu ini sebenarnya baru saya dengar beberapa pekan yang lalu. Lagu baru yang berputar dalam kepala. Lagu yang bisa dibilang “saya banget” ini berisi lirik-lirik sederhana. Lirik yang isinya berkata saya bahagia melihat kamu bahagia dengan siapapun kamu. Sepertinya lagu ini cocok untuk keadaan saya yang baru saja ditinggalkan seseorang. Siapa pula orang yang suka ditinggalkan? Tidak ada. Tidak ada yang akan baik-baik saja setelah orang yang dia sayangi pergi. Tidak, sampai dia berusaha ikhlas.

            Beberapa kesempatan saat bertemu dengan dia, saya masih suka menanyakannya; apakah dia masih sayang, apakah dia masih menyimpan harapan untuk kami bersama lagi. Yang tentu saja akan dibalasnya dengan; iya, tapi saya tidak berharap terlalu banyak lagi. Terlalu berharap hanya akan membuat saya terlalu kecewa nantinya. Saya pernah cerita ke salah satu teman, kalau saya masih menyayanginya sampai sekarang. Serumit apapun hubungan kami dahulu. Teman saya hanya tersenyum dan berkata; kalau jodoh tidak akan lari ke mana. Kalau tidak jodoh ya akan lari ke mana-mana. Saya bilang saya mau minta sama Tuhan buat bisa berjodoh sama dia. Teman saya bilang; kamu tidak minta pun pasti akan sama sama kalau jodoh. Saya tertegun.

Kenapa Orang Rindu Kampung Halaman?


            Aku menulis ini dan kemudian dibaca olehmu karena barangkali kamu tertarik dengan judulnya. Mungkin saja kamu hanya iseng mengklik blog tidak terkenal seperti ini. Apapun alasanmu, aku akan memberitahu sesuatu. Kamu tidak akan mendapatkan banyak manfaat dari membaca ini. Karena aku hanya akan membawamu mendengarkan cerita-cerita yang ku sajikan dalam bentuk yang sangat sederhana. Tentang betapa pendosanya aku di masa kecil (meski sekarang juga masih) bersama teman-teman tidak sebayaku. Kamu bisa menikmatinya sembari menyaksikan senja atau matahari terbit di kotamu. Dua hal yang selalu luput diperhatikan orang-orang yang hidupnya serba cepat. Atau kamu bisa menutupnya sekarang kalau kamu tidak tertarik dengan pengantarku barusan.
            Untukmu yang masih berlanjut membacanya sampai sekarang, aku akan menceritakannya secara perlahan. Sebab kadang aku menulis terlalu acak. Aku berusaha tentu saja. Ini kulakukan semata agar kamu bisa mengerti dan syukur-syukur kalau kamu bisa paham apa yang kurasakan waktu itu. Sewaktu mengalami kejadian-kejadian tersebut atau kamu bisa membayangkan dirimu adalah aku di waktu dulu.
            Jadi sebentar lagi aku akan pergi ke kota lain untuk menuntut ilmu. Aku menulis ini di bulan Ramadan. Waktu bagi para pelajar (entah untuk para pekerja) adalah waktu yang tepat untuk pulang ke kampung halaman. Halaman berapa? Oh, ini bukan buku. Bukan kata-kata yang sering disajikan orang-orang menjadi beberapa bait puisi. Lebih tepatnya ini adalah sebuah tempat yang membuatmu selalu merasa berada di ‘rumah’.
            Kampungku di Sengkang. Kamu tidak akan menemukannya di peta. Sengkang terletak di Sulawesi Selatan. Dari Makassar, ibu kota Sulawesi Selatan, Sengkang bisa ditempuh 4-5 jam tergantung kecepatan supir yang membawamu. Kamu bisa ke sini dengan melewati dua rute, lewat Bulu’ Dua atau Camba. Kalau lewat Camba, sepanjang perjalanan kamu akan dipaksa untuk tidur. Harus tidur. Sebab jika tidak, bagi kamu yang suka mual ketika perjalanan jauh, akan muntah. Karena melewati Camba serupa melewati sirkuit balap yang kemiringannya betul-betul membuat kita berdzikir dan mengingat Tuhan sesering mungkin.
Camba adalah jalanan berkelok terjal yang ketika kamu melongo ke bawah, kamu hanya akan melihat jurang yang dalam. Ketika menengok ke samping, kamu akan menemukan pepohonan lebat dan batu-batu besar. Ketika menengok ke atas, kalau sedang beruntung dan kamu melewatinya di pagi hari, kamu bisa bertemu banyak monyet yang bergelantungan seenaknya. Dengan banyak rintangan yang kamu lalui ketika melewati Camba, kamu mendapatkan satu keuntungan; yaitu Camba adalah jalur tercepat menuju Sengkang.
            Setelah membaca sedikit cerita soal Camba, kamu akan berpikir lebih baik melewati Bulu’ Dua saja. Bulu’ Dua adalah rute yang aman dan paling sering dilewati orang-orang yang mau berkendara santai-santai. Di Bulu Dua cuacanya sangat dingin ketika musim hujan tiba. Kamu bisa melihat napasmu melayang-layang di udara setelah kamu hembuskan. Jalan ini hanya lurus lurus saja tanpa kelokan yang berarti. Hanya saja, ini adalah rute yang jauh. Banyak mobil sewa tidak akan melewati tempat ini karena lama. Banyak, tapi tidak semua.
            Aku kemudian menjadi bingung kenapa ceritaku sudah menjalar ke mana-mana. Jadi coba berhentilah membaca. Sekarang tanya dirimu. Kamu pernah merasakan apa saat pulang ke kampung halamanmu? Kamu punya? Atau kamu adalah orang yang besar di kota?
            Kalau kamu sudah menjawab itu, lanjutlah membaca.
            Jadi kampung halaman menurutku adalah tempat yang di mana kamu besar, tumbuh, menghambiskan hari-harimu, berinteraksi, dan merasa bahwa itu adalah ‘rumah’. Hal yang sama ketika aku menemukan seseorang yang kurasa sangat dekat hingga tidak ada cela lagi dengannya, seseorang yang kusebut sebagai ‘rumah’. Tempatku pulang.
            Aku menamai Sengkang sebagai ‘rumah’. Karena setiap aku pergi jauh darinya, selalu ada rindu yang harus kutampung dalam hati. Sengkang di kepalaku menjadi kota sederhana yang di mana, setiap sudutnya sudah kubuatkan kenangan baik-baik. Yang kelak ketika aku kecelakaan dan amnesia dan lupa semuanya, orang-orang terdekatku bisa membawaku ke sana dan aku berharap bisa mengingatnya kembali.
            Jadi di Sengkang aku tinggal di sebuah kompleks perumahan atau yang akrab disebut oleh orang sini adalah BTN. Aku tinggal di BTN Pepabri. Pepabri adalah singkatan Pensiunan Para ABRI. Aku lupa pernah mendengarnya di mana. Ya meskipun memang harus kuakui kalau di tempat ini, banyak orang yang sudah berusia lanjut menetap.
            BTN Pepabri dulunya hanya memiliki satu masjid. Masjid yang selalu ramai dikunjungi oleh orang-orang. Tapi saat ini sudah ada 3 masjid yang berdiri. Barangkali ini bisa jadi alasan kenapa masjid yang dulu sudah kekurangan jama’ah. Aku tak pandai soal agama. Jilbabku tidak turun menutupi dada. Pakaianku masih menunjukkan lekuk tubuh. Aku masih menyentuh lelaki ketika bersalaman. Aku masih sering melepas jilbab ketika berada di rumah orang. Tapi, masa kecil di sebuah masjid di BTN Pepabri sangat membuatku bahagia. Bahkan hingga usiaku yang ke 22 ini.
            Masjid pertama itu bernama masjid Jannatul Firdaus. Masjid yang dulunya masih sangat sederhana. Jam dindingnya kadang tak jalan, belum ada jam untuk menentukan iqamah. Belum memiliki AC. Belum ada kamar mandi yang cantik. Belum ada kipas angina tornado. Belum seperti sekarang ini.
            Di masjid itu, aku menghabiskan banyak waktu ketika Ramadan tiba. Aku rajin sholat subuh karena setelahnya, aku dan beberapa tetanggaku yang tadi kukatakan kami tidak sebaya, akan pergi berlajan-jalan subuh. Rutinitas yang wajib kulakukan di bulan Ramadan. Setelah jalan-jalan subuh, kami akan pulang untuk mengaji dan tidur. Ketika duhur, kami akan bangun kembali dan saling memanggil ke rumah satu sama lain untuk berangkat ke masjid bersama-sama. Hal yang membahagiakan sekali ketika sampai di depan rumah tetangga dan berteriak, “Epi, ayokmi.” Dan ada jawaban dari dalam, “Iya, tungguma.”
            Temanku ada 3 orang. Dulunya. Sekarang ada 4. Samaku kami berjumlah 5. Kami akan pergi ke masjid untuk sholat duhur. Udara panas tidak mematahkan semangat kami. Beberapa temanku membawa permainan seperti monopoli dan kartu untuk dimainkan di masjid sembari menunggu sholat ashar tiba. Oh ya, aku dan teman-temanku senang menunggu sholat ashar di masjid. Jadi kami bisa bermain (sesekali mengaji) sepuasnya.
            Aku ingat ketika selesai sholat duhur, kami akan ke belakang masjid. Duduk dan membiarkan wajah kami ditiup angin sepoi-sepoi. Di belakang masjid ada hamparan sawah yang sangat luas. Kami tidak tahu itu  milik siapa. Kami hanya menikmatinya. Kalau dibayar, kami tentu saja tidak punya uang. Untungnya itu gratis.
            Selesai menikmati sepoinya angin, kami lantas masuk untuk bermain. Aku amat mengingat ketika itu ada seorang marbot masjid bernama Jumadil. Waktu itu juga ada imam di masjid ini, imam terbaik yang pernah kulihat. Meski bacaannya panjang-panjang dan pernah membuatku pingsan saat sholat tasbih, aku tetap menyukainya. Oh ya, soal Jumadil. Jumadil adalah lelaki tinggi dengan wajah lonjong dan mata sedikit besar. Dia selalu memarahi kami ketika bermain di masjid. Padahal kami hanya bermain monopoli atau bermain kartu. Jumadil sampai pernah memberikan kami tikus mati dari atap kamarnya untuk membuat kami pergi. Kami yang marah, saat itu mulai membenci Jumadil yang jahat.
            Di suatu malam, saat seorang bapak naik ke mimbar untuk berceramah, kami yang dibantu dengan anak lorong sebelah (mereka juga membenci Jumadil) merencanakan sesuatu untuk balas dendam pada Jumadil. Kenakalan masa kecil yang lucu. Kami akhirnya keluar dari masjid dan menuju kamar belakang, tempat Jumadil tinggal. Seorang teman memberikan kami batu yang besar-besar yang bisa dia dapatkan di sekitar sana. Kami lalu mengalirkannya menuju jendela Jumadil dan tertawa cekikikan ketika memasukkan batu-batu tersebut ke kamar Jumadil. Kami mulai membayangkan dia akan berteriak histeris ketika masuk ke kamarnya. Licik memang, waktu itu pikiran kami betul-betul tercampur sama kemarahan dengan Jumadil.
            Saat mengingat masa-masa itu, hatiku langsung menjadi bahagia dengan sendirinya. Masa di mana ketika selesai sholat magrib di rumah, kami (aku dan teman-temanku) akan berlari menuju masjid. Menyimpan sajadah di tempat strategis di dekat tiang. Karena ketika lelah mendengarkan ceramah, kami bisa sandar-sandar di sana. Kami akan berlari sembari tertawa sampai mata berair dan suara di tenggorokan menjadi serak. Begitulah. Kegiatan yang sudah tidak bisa diulang seiring dengan bertambahnya usia.
            Selain monopoli dan bermain ludo, kami sudah tidak pernah melakukan hal konyol seperti itu lagi. Masa kecil yang betul-betul sulit dilupakan. Ketika berada di kaca pesawat dari Jogja ke Makassar, ketika pesawat sudah berada di atas kota Makassar, aku serasa ingin cepat-cepat pulang ke Sengkang. Kota yang setiap sudutnya punya kenangan tersendiri. Kota yang ketika kulihat orang-orangnya, aku selalu merasa ingin memeluk mereka satu-satu. Bersyukur bahwa kota ini, dengan segala perkembangannya, tetap masih mau menyimpan kenangan masa kecilku yang tidak akan pernah bisa digadai dengan apapun. Mungkin inilah salah satu alasan, kenapa orang-orang tidak suka tumbuh menjadi dewasa. Karena barangkali di kepala kita semua, sudah tumbuh anak kecil yang selalu senang bermain dan berbahagia dengan hal-hal yang sederhana.
            Sengkang, terima kasih.
            Aku begitu bahagia dibesarkan di kota kecil ini.
            Jika kamu adalah manusia, kita pasti bisa menjadi sahabat baik.
            Sayang kamu adalah sebuah kota.
            Kota dengan banyak cerita yang menyenangkan.

            Jadi sekali lagi, terima kasih.

Saat Semuanya Bergulir Semaunya


            Hidup adalah sesuatu yang sangat absurd untuk digambarkan. Begitulah menurut Maggie Tjiojakin. Aku salah satu orang yang menganut kepercayaan yang sama dengannya. Setelah melewati banyak hal yang tidak kuduga-duga dalam hidup. Termasuk kehilangan orang yang sampai saat ini menjadi penyesalan tersendiri untukku.
            Sedang waktu menjelma menjadi pelari yang tidak tahu kapan harus berhenti. Tidak pernah beristirahat, hanya mengambil napas panjang sesekali. Sudah tiga bulan aku lulus dan diberi gelar sarjana seperti seharusnya. Saat ini, hidup yang sesungguhnya benar-benar dimulai. Kata orang, hidup sebenar-benarnya adalah ketika kita lulus pendidikan dan diberikan banyak pilihan untuk melakukan apapun.
            Aku teringat tentang salah satu teman masa kecilku. Dia nampak bahagia dengan keluarga kecilnya. Dengan kedua anak lelakinya yang sudah pandai berlari dan bermain bersama. Dengan suami yang kulihat dari potretnya, amat menyayangi keluarganya. Tentu saja. Teman masa kecilku, yang mengajarkanku berenang ketika rumahnya kebanjiran, memang telah memilih nasibnya untuk menikah muda. Menurutnya, menjadi seorang istri juga merupakan suatu rejeki. Rejeki tidak hanya diukur dari tingginya tingkat pendidikan. Tapi lebih kepada bagaimana mengimplementasikannya.
            Cerita berbeda kudapatkan dari salah satu temanku yang melanjutkan pendidikannya dan berhenti ketika salah seorang polisi melamarnya. Saat ini, ia sudah memiliki anak lelaki yang tumbuh sehat dan selalu tersenyum manis ketika difoto.
            Aku kadang berpikir, bahwa kenapa waktu bergerak begitu cepat. Tanpa sempat dikendalikan oleh manusia. Seandainya bisa, aku bercita-cita mengendalikannya dengan baik. Kembali ke beberapa waktu yang lalu, mencegah agar tidak merusak semuanya. Namun sayang, manusia sepertiku tidak bisa secanggih itu.
            Sudah kuhabiskan waktuku untuk fokus membereskan masa depanku yang masih nampak berantakan dan entah akan ke mana. Aku melakukannya tentu saja, setelah berusaha mencari pekerjaan. Interview sana sini sudah kulakukan dan terhenti ketika membicarakan job desk dan salary. Barangkali ini dikarenakan ketakutan pribadiku tidak bisa mengerjakan apa yang perusahaan minta. Barangkali ini dikarenakan niatku dari dulu untuk lanjut harus kugadai karena skor TOEFL yang belum mencukupi.
            Namun ketika ada kesempatan, aku mencobanya. Aku akhirnya berangkat ke Jogja dengan tujuan untuk mengikuti tes masuk Pascasarjana di sana. Dengan segala ketergesa-gesaan, semua selesai sesuai target. Sekarang tinggal mengencangkan do’a dan berharap kabar baik di bulan Juli nanti menghampiri.
            Saat perjalanan Makassar ke Jogja, aku menemukan banyak sekali rupa-rupa orang. Tidak kutahu watak mereka seperti apa saat belum kuajak berbicara. Setelah tes, aku memilih mengasingkan diri ke Jakarta. Aneh, karena yang kupilih adalah kota yang ramai. Ya, tentu saja. Lagi lagi hidup adalah pilihan. Aku memilih ke sana karena kekurangan tidur setelah mengikuti tes dan aku butuh bertemu orang-orang baru. Kepalaku selalu ramai dengan wajah yang itu-itu saja. Membosankan dan mengganggu. Tapi apa dayaku. Ternyata perjalanan jauh belum mampu menghilangkan wajah itu dari dalam kepala. Padahal aku pelupa yang handal. Namun untuk yang satu itu, namanya jauh dari kata lupa. Mungkin karena banyak sekali yang kuhabisan dengannya. Mungkin karena perasaan yang masih setengah-setengah mengikhlaskan apa yang dia putuskan. Mungkin karena rasa bersalah yang tidak akan tertebus sampai kapanpun.

Meskipun aku tidak tahu akan berakhir seperti apa, tapi seperti teman-temanku yang lain. Aku akhirnya memilih. Menetapkannya dalam kepala. Dan membiarkannya membatu di sana. 

-360 Hari Bersama Kekasih


            Pagi ini aku mengawali kembali rutinitas yang sudah seharusnya dilakukan oleh mahasiswa tingkat akhir sepertiku. Namun ada yang berbeda. Pagi ini udaranya lembab, langit mendung, dan hujan di mataku telah mengalir sejak bangun tidur membaca pesan panjang dari kekasihku.
            “Kesendirian adalah ketika kamu merasa semua orang telah pergi. Yang bisa kamu lakukan hanyalah  mengandalkan dirimu sendiri”
            Aku percaya setiap orang di dunia pasti memiliki orang terbaik yang menopang mereka. Orang-orang yang mengangkat mereka ketika terjatuh. Orang-orang yang bersedia memberikan pundak mereka ketika ingin bersandar. Orang-orang yang peka mendengarkan suara bergetar dan langsung memeluk sebelum mereka sempat menangis. Seperti itu, aku pun punya andalanku sendiri. Kekasihku.
            Dia orang yang selalu nampak gagah dipandanganku. Sekurus apapun tubuhnya, semengeluh apapun dia ketika menimbang berat badannya yang tak pernah bertambah. Dialah kekasih yang sangat sering menjadi musuhku sendiri. Tak jarang aku meneriakinya “aku membencimu” dan selalu dibalasnya dengan “iya, aku juga mencintaimu”

            Dialah yang bersamaku belakangan ini. Menemaniku bermain, ke sana dan ke mari. Membantuku yang selalu payah ini. Mengajariku untuk membuatku tahu. Mempelajari apa yang tidak dia ketahui, semata agar dia bisa membantuku. Dialah yang selalu menarikku, mengatakan semuanya akan baik saja, menemaniku bermain catur dan bersabar ketika aku menghancurkan pionnya karena tidak ingin dikalahkan. Dialah yang selalu melarangku sebab khawatir aku celaka di luar sana. Dialah yang selalu mengingatkanku berpakaian sopan sebab tahu mata lelaki selalu berpusat di bagian mana. Dialah yang membantuku menumbuk bumbu untuk nasi goreng. Dialah yang menahan matanya tetap terjaga guna menjemurkan pakaianku, saat aku sudah sangat mengantuk. Dialah yang tidak pernah mau meninggalkanku sendirian. Dan dialah juga yang selalu dikutuk oleh orang sekitarku yang tidak paham, siapa dia sebenarnya.


            Hampir setahun bersamanya, hamper setahun pula pandanganku mulai luas terbuka. Aku memang memilih dengan selektif orang-orang terdekatku. Aku menghindari banyak orang. Hal itu dikarenakan aku yang notabene gampang percaya pada semua orang, harus mengontrol diriku sendiri agar tidak lagi merasa disakiti. Pun bila aku masih saja tersakiti, itu karena aku membiarkan beberapa orang melakukan itu. Setelah menimbang-nimbangnya tentu saja.
            Orang-orang mengira, dia datang mengubahku. Memporak-porandakan kegemaranku, melarangku ke mana-mana, memprotektifkan aku setiap saat. Awalnya aku memang tidak menerima itu. Perang silih berganti diantara kami. Saling bersuara keras dan menutup telinga masing-masing. Namun di akhir, aku mulai sadar dia melakukannya demi kebaikanku. Dia selalu sabar mengingatkan, meski lebih banyak yang kuprotes, dia tetap sabar dan tidak meladeni omonganku. Berusaha meredam emosinya sendiri.

            Aku mencintainya dan seperti itulah juga dia.
            Tulisan ini akan kulanjutkan ketika kami genap setahun.
            Aku harus mengerjakan revisi proposalku dulu.

            Sampai jumpa.

Melukis adalah Pekerjaan Untuk Tetap Menjadi Waras


            Sungguh, untuk merampungkan tulisan ini saya berpikir berulang-ulang dengan cara memutar-mutar bola mata. Sembari melirik-lirik sebuah lukisan aneh di sudut jendela yang rapuh. Mungkin karena terlalu sering diselimuti debu. Lukisan aneh itu adalah buatan saya. Lukisan yang hingga kini saya benci, begitu juga dengan guru pelajaran seni yang masih saya hapalkan tiap inci wajahnya sampai hari ini. Guru yang menurut saya semena-mena menyamaratakan tingkat kreativitas setiap siswa di kelas dengan standarisasi yang dibuatnya sendiri.
            Berbicara kreativitas, saya bisa saja digolongkan sebagai orang-orang yang tidak kreatif. Apalah saya ini yang menggunting saja masih miring. Saya tidak bisa juga menggolongkan diri saya dalam kategori orang-orang penikmat kreativitas. Tidak, saya tidak tahu tepatnya. Yang saya tahu, saya senang mencampurkan warna di atas kanvas. Saya benci menggambar, namun saya selalu senang ketika disuruh melukis sesuatu. Meskipun lukisan yang saya buat tidak pernah dipuji berlebihan oleh orang-orang, tapi saya tetap menyukainya. Saya ingat ketika pertama kali menginjakkan kaki menjadi mahasiswa baru dan berjalan menuju ruang himpunan. Tiap kali ada senior yang bertanya saya senang melakukan apa, saya akan dengan lantang menjawab saya senang melukis meskipun gambar saya jelek. Mereka kadang tertawa. Tertawa karena jawaban saya aneh atau karena saya terlihat bodoh dengan jawaban seperti itu.
            Sepertinya hal lain yang harus saya lakukan selain membenci guru seni saya semasa SMA adalah saya juga harus berterima kasih pada beliau. Sebab tanpanya, saya tidak akan bisa merasakan membuat lukisan pertama. Tidak tahu bau cat ketika dicampurkan seperti apa. Tidak tahu bahwa melukis adalah salah satu jalan agar saya tidak menjadi gila. Tidak tahu bahwa selain menulis, melukis bisa membuat hati berbahagia dengan cara yang berbeda.
            Lukisan pertama saya hanyalah sekumpulan balon dengan warna seragam, dan satu balon dengan warna yang berbeda. Satu balon dengan warna yang berbeda itu terlepas dan terbang. Di atasnya, ada awan yang berwarna merah tembaga.  Dan tebaklah, lukisan yang saya kumpulkan sebagai syarat untuk ujian itu ditolak mentah-mentah hanya dengan alasan balonnya kurang bundar dan sedikit lonjong. Oh come on, sounds funny Sir. Bapak harusnya menilai bukan dari seberapa besar bundaran dalam balonnya, tapi seberapa sulit lukisan ini saya buat dengan susah payah selama beberapa hari. Tapi guru tetaplah guru. Maha besar beliau dengan segala aturannya. Lukisan saya dikembalikan dan harus diulangi lagi. Walhasil, jadilah lukisan abal-abal saya yang berada di sudut jendela ruang tamu terpampang dan ditatap oleh beberapa orang tamu yang pernah mengunjungi rumah saya di Sengkang.
            Lukisan pertama saya adalah cermin dari tingkat kreativitas saya yang demi apapun sulit untuk saya jelaskan pada tulisan ini. Saya amat sangat menyukai lukisan itu, melambangkan kebebasan. Sama dengan alasan mengapa saya memilih menulis dan melukis sebagai dua hal romantis yang berdampingan. Tidak perlulah saya mendapatkan kekasih yang pandai bernyanyi atau pandai menjemput dengan mobil sedan. Cukup yang mau menemani saya menumpahkan berbotol-botol cat hanya untuk mendapatkan lukisan terbaik yang kami buat bersama (atau lebih banyak dia, terserahlah).

            Jika Pram berkata “Menulis adalah bekerja untuk keabadian”, maka saya berkata “Melukis adalah pekerjaan untuk tetap menjadi waras”. Sebab saya mengalaminya, dan saran saya jika kalian sudah merasa sebentar lagi akan gila dan tidak tahu harus berbuat apa selain meratapi nasib, maka menulis dan melukislah.

SENGKANG DAN SATU HAL YANG PATUT DIKENANG


            Berbicara tentang Sengkang, berbicara tentang rumah tempat pulang. Ada begitu banyak tempat untuk singgah setelah melalui banyak hari dalam rahim ibu. Hingga mata mulai berani menantang dunia, perkenalan paling singkat akan disodorkan ibu tentang  bagaimana cara mengingat dan bagaimana cara belajar melupakan dengan cepat.
            Terakhir pulang menjenguknya, Sengkang hari ini ternyata sudah mulai tumbuh menjadi dewasa. Saya pikir masih kekanakan seperti dulu. Saya pikir masih banyak yang belum selesai dan sudah ditimbun duluan di situ. Oleh apa? Apalagi kalau bukan kaki-kaki penguasa dan tangan-tangan dingin orang-orang sekitar. Tapi Sengkang tetaplah Sengkang. Sedewasa apapun dia, akan tetap ada beberapa sisi yang menandakan bahwa dia pernah berada di umur kekanakan. Hingga saat ini.
            Saya akan menjadi anak yang gagap seketika saat seseorang datang dan bertanya tempat apa saja yang menarik di kampung halaman saya. Bukannya tidak ada, tapi karena terlalu banyak yang kemudian tidak bisa saya uraikan satu-satu dalam satu waktu. Halaman rumah merupakan  tempat paling menarik buat saya ketika pulang kampung. Lorong perumahan saya juga seperti itu. Sebab setiap saya pulang, akan selalu ada kucing-kucing baru yang muncul dan mengeong dengan keras di pintu samping saya.
Bercerita tentang kucing, tentu Kartono (kucing pertama yang membuat saya jatuh cinta) sudah tersenyum bahagia dan menua di surga. Dia lahir ketika hari kartini saat saya masih kelas 6 SD dan meninggal ketika saya masuk kuliah. Cukup lama memelihara Kartono membuat saya cukup mengerti dengan tingkah laku kucing ketika sedang patah hati, jatuh cinta, atau terluka. Kala itu Tono (atau Kartono) sedang jatuh cintanya pada seorang kucing betina yang warnanya biasa saja. Saat tahu kucing itu juga ada yang mendekati, Kartono menjadi patah hati dan malas makan (saya mengetahui ini ketika mengikutinya semalaman). Dia lebih senang tidur seperti kucing mati dan bermalas-malasan seperti kucing gemuk yang baru selesai memakan tikus busuk. Namun keesokan harinya, Tono membaik. Dia kembali mengejar kucing betina itu dengan ekor yang selalu berdiri tegak mengikuti langkah pujaannya dan dia bahkan sudah lupa untuk makan. Membuat tubuhnya menjadi semakin mengurus dengan tulang-tulang yang sudah mulai nampak. Saya benci ketika Kartono jatuh cinta. Dia menjadi jarang pulang ke rumah dan absen menggosok gigi sebelum tidur. Saya juga menyaksikan Kartono sedang terluka sehabis perang dengan kucing lain yang juga menyukai pujaan hatinya. Berlebihan memang, tapi kucing mau peduli apa?
            Hari itu, Sengkang mendung. Angin dingin berkunjung dan menggoyang-goyangkan pohon anggrek ibu yang mulai rapuh. Kartono pulang dengan luka menganga pada lehernya. Beberapa hari yang lalu, iya juga pulang dengan keadaan paha yang bocor. Namun lagi-lagi dari Kartono saya belajar, bahwa kucing bisa menyembuhkan lukanya sendiri dengan menjilatinya dengan liur dan itu tidak membutuhkan waktu satu minggu. Namun hari itu berbeda. Kali ini kutatap Kartono yang setengah mati ingin menjilati lehernya yang berlubang namun lidahnya tidak sampai. Apa boleh buat, saya kemudian berinisiatif untuk menuangkan minyak gosok ke lehernya dan berharap itu bisa sedikit membantu. Namun na’as, tiga hari kemudian Tono menghilang dan hari keempat bangkai kucing berbulu cokelat ditemukan tiga rumah dari rumah saya. Di akhir hidupnya, Kartono mengajarkan saya bahwa kucing yang mencintai pemiliknya tidak akan meninggal di rumahnya sendiri. Melainkan ia akan pergi jauh agar tidak membuat pemiliknya sedih dan merasa kehilangan meskipun kita semua tahu bahwa itu adalah hal yang mustahil dilakukan.
            Pulanglah dengan lugu.
            Masih ada pintu untukmu,
            Bahkan jika kau pulang telanjang malam-malam
            Saat aku sedang bertukar meong dengan kucingku
            (Joko Pinurbo, 2013. Surat Pulang)   
                Sepenggal puisi tadi  bisa jadi merupakan salah satu jalan pulang yang baik untuk kembali mengingat kenangan dan apa yang pernah tertinggal di kampung halaman.


Tentang Kepergian dan Hal-Hal Lain Setelahnya.


            Selamat memasuki bulan kemarau!
            Aku harus menuliskan itu sebagai pengingat bahwa saat ini memang sedang musim kemarau. Sengkang termasuk baik hati, karena tidak pernah tega membiarkan aku sendiri. Dari kota kecil ini (maksudku kota yang bahkan tidak akan pernah kau dapatkan namanya dalam peta) aku bahkan tidak pernah merasa benar-benar kering seperti apa yang harusnya orang-orang rasakan. Kepalaku benar-benar selalu basah. Hingga orang-orang di dalamnya, termasuk kamu yang baru saja pergi barangkali sudah bisa berenang di sana.
            Berbicara tentang kepergian, sebenarnya jujur saja aku sudah bosan menuliskan ini. Kalian tentu saja juga merasakan hal yang sama sepertiku. Jikalau aku mampu, suatu saat blog ini sepertinya akan berwarna abu-abu atau bahkan hitam. Dengan hujan di setiap katanya, dengan sedikit mendung di beberapa hurufnya. Saking sendunya setiap kisah yang dialami oleh seorang perempuan sepertiku.
            Ketika berada dalam sebuah pelatihan menulis, Agus Noor bertanya mengapa aku harus menulis. Jawabanku sederhana. Karena menurutku dengan menulis aku bisa membahagiakan diri sendiri meskipun kebanyakan yang tertuang adalah tulisan-tulisan sedih yang tidak tahu harus kuapakan selain kutuangkan. Kata Aan Mansyur, seorang penulis harus mampu terus menulis dan mengeluarkan tulisan-tulisan buruknya dalam kepala hingga terlahir sebuah tulisan yang dianggap layak atau bisa dikatakan bagus. Kurang lebihnya seperti itu ia mengatakannya. Mengacu pada hal tersebut, maka aku mencoba untuk menuliskan semua kisah sedih ini agar mereka keluar dengan baik-baik dan tidak menjadi kenangan yang selalu memaksaku untuk kembali ke tempat dimana semua ini mulai salah. Maka untukmu, aku mulai menuliskannya.
            Sudah berapa hari kita tidak saling kenal lagi? Barangkali seminggu. Atau dua minggu? Oh tidak tidak. Maksudku kita tidak saling kenal lagi atau kasarnya, aku yang sudah tidak mau mengenalmu lagi semenjak malam dimana semua kata-kata kasar berloncatan dari dalam kepalaku. Memaksa ibu jariku untuk mengetikkan pesan yang panjang-panjang buatmu. Pesan yang sejujurnya - seberapa panjang pun ia kutuliskan - tidak akan pernah mampu untuk menjelaskan semua duduk perkara kita hingga bisa menjadi seperti sekarang ini. Seperti orang asing untuk satu sama lain.
            Kalau kau mau berkata bahwa aku adalah seorang pendendam, maka silakan saja kau boleh melakukannya. Aku tidak pernah punya masalah dengan itu. Masalahku saat ini adalah karena kita harus selesai dengan akhir yang oleh kita bersama, sepakat dianggap sebagai akhir yang baik-baik saja. Sama seperti do’amu yang menyuruhku seperti itu. Do’amu baik, baik sekali. Tapi kenapa rasanya seperti irisan belati di tangan kiri?
            Oh ya aku lupa. Mungkin seperti itulah rasa terakhir dari setiap hubungan yang kandas karena tidak mampu lagi diperjuangkan. Pada akhirnya kami berakhir dengan alasan yang sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Tapi sudahlah, setiap orang memang punya caranya sendiri-sendiri untuk lebih menyakiti dan kemudian beranjak pergi. Meski tak lagi rapi, hidupku pasti beranjak pulih kembali, setidaknya seperti itulah yang selalu kuyakini untuk menegarkan diri sendiri. Meskipun kita semua tahu, ketika seseorang ditinggal pergi akan datang sesuatu yang kita sebut sepi. Seperti itulah sedikit cerita ketika berusaha berdiri tanpa mengenalmu lagi.

            Setelah berbicara tentang cinta dan kepatahatian yang menyakitkan dan sedikit berlebihan itu, mari kita bicara tentang kepulangan di kampung halaman pada tulisan berikutnya. Terima kasih sudah membaca dan berhati-hatilah pada sesuatu yang dinamakan cinta.

Perihal Menjadi Pacar Dan Sesuatu yang Mulai Hambar


            Selamat pagi, Mei.
Semoga hadirmu kian mempertegas banyak hubungan di luar sana.
            Termasuk yang satu ini.
            Ada banyak hal yang menarik untuk kutulis pagi ini setelah menghabiskan malam dan bertengkar hebat dengan seseorang dari masa lalu yang kembali datang dengan embel-embel masa depan. Sesuatu yang tidak jelas dan berbentuk abstrak atau sedikit abu-abu coba dia berikan titik terang yang sayangnya tidak mau kuterima. Lingkungan sosial memang turut menjadi penggagas paling baik untuk seseorang sepertiku kembali berpikir ulang untuk apa yang selama ini sudah kami perbuat.
Mencintaimu dan mencintaiku adalah sepasang kata yang dengannya, seseorang gemar sekali mengikat suatu hubungan. Ada yang serta merta saat itu juga, ada yang menunggu waktu atau dengan sedikit bumbu-bumbu klasik, mencari tanggal bagus. Aku tidak tahu, kalian mau setuju dengan apa yang kutulis atau tidak. Sejujurnya aku tidak peduli. Aku sudah muak membukakan terlalu lebar telinga untuk omong kosong di luar sana. Namun kemarin, selingan bisik-bisik dari sahabatku kembali membongkar semuanya. Tiba-tiba saja, aku berpikir dengan sangat buntu. Iya juga, selama ini kami bersama namun belum menjadi apa-apa hanya karena dia mencari tanggal yang menurutnya cantik. Sedikit menjijikkan, mengingat kami bukan lagi anak abg tahun kemarin yang harus selalu merayakan hari jadi hubungan tiap hari, bulan, dan tahun. Kami kepala dua dan dituntut oleh diri sendiri untuk memikirkan hal-hal ke depan.
Aku ingat sewaktu kecil senang sekali bermain layangan. Layangannya melayang di udara. Aku menarik-narik talinya di atas tanah. Namun tiba-tiba benangnya putus, barangkali karena terlalu tipis atau karena sudah bosan menunggu sesuatu yang melayang tak jelas arah kapan turunnya atau karena aku yang lupa mengikatnya terlebih dahulu. Aku tidak tahu. Maksudku waktu seumuran itu, aku tidak tahu alasannya putus karena apa. Baru setelah menginjak umur dua puluh, aku mulai kembali mengingat itu setelah sesuatu terjadi padaku. Menjalani sesuatu yang tidak tahu harus disebut apa adalah hal yang paling membosankan menurutku. Awalnya memang menarik. Ketahuilah, aku juga sosok perempuan yang senang bertemu dan melalukan sesuatu yang baru. Termasuk itu. Namun kupikir semakin ke sini semakin aku tidak mengerti arah sesuatu itu akan dibawa kemana. Kuakui, baiklah. Dalam  tulisan ini, terkhusus hanya di sini; aku memang sebuah produk dari Tuhan yang gemar sekali bosan dan melompat-lompat ke satu orang menuju orang yang lain ketika aku tidak menemukan alasan nyata mengapa harus tinggal. Atau karena tidak ada lagi yang mengharuskan aku tinggal. Atau karena pegangan seseorang mulai melonggar dan memberikanku sedikit celah dimana aku bisa bebas.

Aku tidak pernah memaksakan seseorang untuk terlalu cepat menyatakan kata-kata mutiara, khas kata-kata orang yang mau memiliki. Tidak. Semua orang punya caranya sendiri-sendiri. Aku mengerti. Tapi satu hal yang harus diwaspadai ketika menemukan orang yang mirip aku, kuncinya hanya satu. Jangan terlalu lama, sayangku. Sebab kau akan merasa jadi orang yang dipecundangi ketika seseorang yang kau pikir tabah dan baik-baik saja, pergi dengan alasan bosan karena tidak pernah diberi alasan untuk tetap tinggal; selain kalimat standar “Karena kita saling sayang”.

Berkomentarlah :)

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Follow by Email

Daily Calendar

Pengikut

Entri Populer

Google+ Followers

Total Tayangan Laman

Mengenai Saya

Foto saya

Penerima kado-kado kecil Tuhan. Penggembira umat. Pemimpi selebihnya!