Kenapa Orang Rindu Kampung Halaman?


            Aku menulis ini dan kemudian dibaca olehmu karena barangkali kamu tertarik dengan judulnya. Mungkin saja kamu hanya iseng mengklik blog tidak terkenal seperti ini. Apapun alasanmu, aku akan memberitahu sesuatu. Kamu tidak akan mendapatkan banyak manfaat dari membaca ini. Karena aku hanya akan membawamu mendengarkan cerita-cerita yang ku sajikan dalam bentuk yang sangat sederhana. Tentang betapa pendosanya aku di masa kecil (meski sekarang juga masih) bersama teman-teman tidak sebayaku. Kamu bisa menikmatinya sembari menyaksikan senja atau matahari terbit di kotamu. Dua hal yang selalu luput diperhatikan orang-orang yang hidupnya serba cepat. Atau kamu bisa menutupnya sekarang kalau kamu tidak tertarik dengan pengantarku barusan.
            Untukmu yang masih berlanjut membacanya sampai sekarang, aku akan menceritakannya secara perlahan. Sebab kadang aku menulis terlalu acak. Aku berusaha tentu saja. Ini kulakukan semata agar kamu bisa mengerti dan syukur-syukur kalau kamu bisa paham apa yang kurasakan waktu itu. Sewaktu mengalami kejadian-kejadian tersebut atau kamu bisa membayangkan dirimu adalah aku di waktu dulu.
            Jadi sebentar lagi aku akan pergi ke kota lain untuk menuntut ilmu. Aku menulis ini di bulan Ramadan. Waktu bagi para pelajar (entah untuk para pekerja) adalah waktu yang tepat untuk pulang ke kampung halaman. Halaman berapa? Oh, ini bukan buku. Bukan kata-kata yang sering disajikan orang-orang menjadi beberapa bait puisi. Lebih tepatnya ini adalah sebuah tempat yang membuatmu selalu merasa berada di ‘rumah’.
            Kampungku di Sengkang. Kamu tidak akan menemukannya di peta. Sengkang terletak di Sulawesi Selatan. Dari Makassar, ibu kota Sulawesi Selatan, Sengkang bisa ditempuh 4-5 jam tergantung kecepatan supir yang membawamu. Kamu bisa ke sini dengan melewati dua rute, lewat Bulu’ Dua atau Camba. Kalau lewat Camba, sepanjang perjalanan kamu akan dipaksa untuk tidur. Harus tidur. Sebab jika tidak, bagi kamu yang suka mual ketika perjalanan jauh, akan muntah. Karena melewati Camba serupa melewati sirkuit balap yang kemiringannya betul-betul membuat kita berdzikir dan mengingat Tuhan sesering mungkin.
Camba adalah jalanan berkelok terjal yang ketika kamu melongo ke bawah, kamu hanya akan melihat jurang yang dalam. Ketika menengok ke samping, kamu akan menemukan pepohonan lebat dan batu-batu besar. Ketika menengok ke atas, kalau sedang beruntung dan kamu melewatinya di pagi hari, kamu bisa bertemu banyak monyet yang bergelantungan seenaknya. Dengan banyak rintangan yang kamu lalui ketika melewati Camba, kamu mendapatkan satu keuntungan; yaitu Camba adalah jalur tercepat menuju Sengkang.
            Setelah membaca sedikit cerita soal Camba, kamu akan berpikir lebih baik melewati Bulu’ Dua saja. Bulu’ Dua adalah rute yang aman dan paling sering dilewati orang-orang yang mau berkendara santai-santai. Di Bulu Dua cuacanya sangat dingin ketika musim hujan tiba. Kamu bisa melihat napasmu melayang-layang di udara setelah kamu hembuskan. Jalan ini hanya lurus lurus saja tanpa kelokan yang berarti. Hanya saja, ini adalah rute yang jauh. Banyak mobil sewa tidak akan melewati tempat ini karena lama. Banyak, tapi tidak semua.
            Aku kemudian menjadi bingung kenapa ceritaku sudah menjalar ke mana-mana. Jadi coba berhentilah membaca. Sekarang tanya dirimu. Kamu pernah merasakan apa saat pulang ke kampung halamanmu? Kamu punya? Atau kamu adalah orang yang besar di kota?
            Kalau kamu sudah menjawab itu, lanjutlah membaca.
            Jadi kampung halaman menurutku adalah tempat yang di mana kamu besar, tumbuh, menghambiskan hari-harimu, berinteraksi, dan merasa bahwa itu adalah ‘rumah’. Hal yang sama ketika aku menemukan seseorang yang kurasa sangat dekat hingga tidak ada cela lagi dengannya, seseorang yang kusebut sebagai ‘rumah’. Tempatku pulang.
            Aku menamai Sengkang sebagai ‘rumah’. Karena setiap aku pergi jauh darinya, selalu ada rindu yang harus kutampung dalam hati. Sengkang di kepalaku menjadi kota sederhana yang di mana, setiap sudutnya sudah kubuatkan kenangan baik-baik. Yang kelak ketika aku kecelakaan dan amnesia dan lupa semuanya, orang-orang terdekatku bisa membawaku ke sana dan aku berharap bisa mengingatnya kembali.
            Jadi di Sengkang aku tinggal di sebuah kompleks perumahan atau yang akrab disebut oleh orang sini adalah BTN. Aku tinggal di BTN Pepabri. Pepabri adalah singkatan Pensiunan Para ABRI. Aku lupa pernah mendengarnya di mana. Ya meskipun memang harus kuakui kalau di tempat ini, banyak orang yang sudah berusia lanjut menetap.
            BTN Pepabri dulunya hanya memiliki satu masjid. Masjid yang selalu ramai dikunjungi oleh orang-orang. Tapi saat ini sudah ada 3 masjid yang berdiri. Barangkali ini bisa jadi alasan kenapa masjid yang dulu sudah kekurangan jama’ah. Aku tak pandai soal agama. Jilbabku tidak turun menutupi dada. Pakaianku masih menunjukkan lekuk tubuh. Aku masih menyentuh lelaki ketika bersalaman. Aku masih sering melepas jilbab ketika berada di rumah orang. Tapi, masa kecil di sebuah masjid di BTN Pepabri sangat membuatku bahagia. Bahkan hingga usiaku yang ke 22 ini.
            Masjid pertama itu bernama masjid Jannatul Firdaus. Masjid yang dulunya masih sangat sederhana. Jam dindingnya kadang tak jalan, belum ada jam untuk menentukan iqamah. Belum memiliki AC. Belum ada kamar mandi yang cantik. Belum ada kipas angina tornado. Belum seperti sekarang ini.
            Di masjid itu, aku menghabiskan banyak waktu ketika Ramadan tiba. Aku rajin sholat subuh karena setelahnya, aku dan beberapa tetanggaku yang tadi kukatakan kami tidak sebaya, akan pergi berlajan-jalan subuh. Rutinitas yang wajib kulakukan di bulan Ramadan. Setelah jalan-jalan subuh, kami akan pulang untuk mengaji dan tidur. Ketika duhur, kami akan bangun kembali dan saling memanggil ke rumah satu sama lain untuk berangkat ke masjid bersama-sama. Hal yang membahagiakan sekali ketika sampai di depan rumah tetangga dan berteriak, “Epi, ayokmi.” Dan ada jawaban dari dalam, “Iya, tungguma.”
            Temanku ada 3 orang. Dulunya. Sekarang ada 4. Samaku kami berjumlah 5. Kami akan pergi ke masjid untuk sholat duhur. Udara panas tidak mematahkan semangat kami. Beberapa temanku membawa permainan seperti monopoli dan kartu untuk dimainkan di masjid sembari menunggu sholat ashar tiba. Oh ya, aku dan teman-temanku senang menunggu sholat ashar di masjid. Jadi kami bisa bermain (sesekali mengaji) sepuasnya.
            Aku ingat ketika selesai sholat duhur, kami akan ke belakang masjid. Duduk dan membiarkan wajah kami ditiup angin sepoi-sepoi. Di belakang masjid ada hamparan sawah yang sangat luas. Kami tidak tahu itu  milik siapa. Kami hanya menikmatinya. Kalau dibayar, kami tentu saja tidak punya uang. Untungnya itu gratis.
            Selesai menikmati sepoinya angin, kami lantas masuk untuk bermain. Aku amat mengingat ketika itu ada seorang marbot masjid bernama Jumadil. Waktu itu juga ada imam di masjid ini, imam terbaik yang pernah kulihat. Meski bacaannya panjang-panjang dan pernah membuatku pingsan saat sholat tasbih, aku tetap menyukainya. Oh ya, soal Jumadil. Jumadil adalah lelaki tinggi dengan wajah lonjong dan mata sedikit besar. Dia selalu memarahi kami ketika bermain di masjid. Padahal kami hanya bermain monopoli atau bermain kartu. Jumadil sampai pernah memberikan kami tikus mati dari atap kamarnya untuk membuat kami pergi. Kami yang marah, saat itu mulai membenci Jumadil yang jahat.
            Di suatu malam, saat seorang bapak naik ke mimbar untuk berceramah, kami yang dibantu dengan anak lorong sebelah (mereka juga membenci Jumadil) merencanakan sesuatu untuk balas dendam pada Jumadil. Kenakalan masa kecil yang lucu. Kami akhirnya keluar dari masjid dan menuju kamar belakang, tempat Jumadil tinggal. Seorang teman memberikan kami batu yang besar-besar yang bisa dia dapatkan di sekitar sana. Kami lalu mengalirkannya menuju jendela Jumadil dan tertawa cekikikan ketika memasukkan batu-batu tersebut ke kamar Jumadil. Kami mulai membayangkan dia akan berteriak histeris ketika masuk ke kamarnya. Licik memang, waktu itu pikiran kami betul-betul tercampur sama kemarahan dengan Jumadil.
            Saat mengingat masa-masa itu, hatiku langsung menjadi bahagia dengan sendirinya. Masa di mana ketika selesai sholat magrib di rumah, kami (aku dan teman-temanku) akan berlari menuju masjid. Menyimpan sajadah di tempat strategis di dekat tiang. Karena ketika lelah mendengarkan ceramah, kami bisa sandar-sandar di sana. Kami akan berlari sembari tertawa sampai mata berair dan suara di tenggorokan menjadi serak. Begitulah. Kegiatan yang sudah tidak bisa diulang seiring dengan bertambahnya usia.
            Selain monopoli dan bermain ludo, kami sudah tidak pernah melakukan hal konyol seperti itu lagi. Masa kecil yang betul-betul sulit dilupakan. Ketika berada di kaca pesawat dari Jogja ke Makassar, ketika pesawat sudah berada di atas kota Makassar, aku serasa ingin cepat-cepat pulang ke Sengkang. Kota yang setiap sudutnya punya kenangan tersendiri. Kota yang ketika kulihat orang-orangnya, aku selalu merasa ingin memeluk mereka satu-satu. Bersyukur bahwa kota ini, dengan segala perkembangannya, tetap masih mau menyimpan kenangan masa kecilku yang tidak akan pernah bisa digadai dengan apapun. Mungkin inilah salah satu alasan, kenapa orang-orang tidak suka tumbuh menjadi dewasa. Karena barangkali di kepala kita semua, sudah tumbuh anak kecil yang selalu senang bermain dan berbahagia dengan hal-hal yang sederhana.
            Sengkang, terima kasih.
            Aku begitu bahagia dibesarkan di kota kecil ini.
            Jika kamu adalah manusia, kita pasti bisa menjadi sahabat baik.
            Sayang kamu adalah sebuah kota.
            Kota dengan banyak cerita yang menyenangkan.

            Jadi sekali lagi, terima kasih.

Saat Semuanya Bergulir Semaunya


            Hidup adalah sesuatu yang sangat absurd untuk digambarkan. Begitulah menurut Maggie Tjiojakin. Aku salah satu orang yang menganut kepercayaan yang sama dengannya. Setelah melewati banyak hal yang tidak kuduga-duga dalam hidup. Termasuk kehilangan orang yang sampai saat ini menjadi penyesalan tersendiri untukku.
            Sedang waktu menjelma menjadi pelari yang tidak tahu kapan harus berhenti. Tidak pernah beristirahat, hanya mengambil napas panjang sesekali. Sudah tiga bulan aku lulus dan diberi gelar sarjana seperti seharusnya. Saat ini, hidup yang sesungguhnya benar-benar dimulai. Kata orang, hidup sebenar-benarnya adalah ketika kita lulus pendidikan dan diberikan banyak pilihan untuk melakukan apapun.
            Aku teringat tentang salah satu teman masa kecilku. Dia nampak bahagia dengan keluarga kecilnya. Dengan kedua anak lelakinya yang sudah pandai berlari dan bermain bersama. Dengan suami yang kulihat dari potretnya, amat menyayangi keluarganya. Tentu saja. Teman masa kecilku, yang mengajarkanku berenang ketika rumahnya kebanjiran, memang telah memilih nasibnya untuk menikah muda. Menurutnya, menjadi seorang istri juga merupakan suatu rejeki. Rejeki tidak hanya diukur dari tingginya tingkat pendidikan. Tapi lebih kepada bagaimana mengimplementasikannya.
            Cerita berbeda kudapatkan dari salah satu temanku yang melanjutkan pendidikannya dan berhenti ketika salah seorang polisi melamarnya. Saat ini, ia sudah memiliki anak lelaki yang tumbuh sehat dan selalu tersenyum manis ketika difoto.
            Aku kadang berpikir, bahwa kenapa waktu bergerak begitu cepat. Tanpa sempat dikendalikan oleh manusia. Seandainya bisa, aku bercita-cita mengendalikannya dengan baik. Kembali ke beberapa waktu yang lalu, mencegah agar tidak merusak semuanya. Namun sayang, manusia sepertiku tidak bisa secanggih itu.
            Sudah kuhabiskan waktuku untuk fokus membereskan masa depanku yang masih nampak berantakan dan entah akan ke mana. Aku melakukannya tentu saja, setelah berusaha mencari pekerjaan. Interview sana sini sudah kulakukan dan terhenti ketika membicarakan job desk dan salary. Barangkali ini dikarenakan ketakutan pribadiku tidak bisa mengerjakan apa yang perusahaan minta. Barangkali ini dikarenakan niatku dari dulu untuk lanjut harus kugadai karena skor TOEFL yang belum mencukupi.
            Namun ketika ada kesempatan, aku mencobanya. Aku akhirnya berangkat ke Jogja dengan tujuan untuk mengikuti tes masuk Pascasarjana di sana. Dengan segala ketergesa-gesaan, semua selesai sesuai target. Sekarang tinggal mengencangkan do’a dan berharap kabar baik di bulan Juli nanti menghampiri.
            Saat perjalanan Makassar ke Jogja, aku menemukan banyak sekali rupa-rupa orang. Tidak kutahu watak mereka seperti apa saat belum kuajak berbicara. Setelah tes, aku memilih mengasingkan diri ke Jakarta. Aneh, karena yang kupilih adalah kota yang ramai. Ya, tentu saja. Lagi lagi hidup adalah pilihan. Aku memilih ke sana karena kekurangan tidur setelah mengikuti tes dan aku butuh bertemu orang-orang baru. Kepalaku selalu ramai dengan wajah yang itu-itu saja. Membosankan dan mengganggu. Tapi apa dayaku. Ternyata perjalanan jauh belum mampu menghilangkan wajah itu dari dalam kepala. Padahal aku pelupa yang handal. Namun untuk yang satu itu, namanya jauh dari kata lupa. Mungkin karena banyak sekali yang kuhabisan dengannya. Mungkin karena perasaan yang masih setengah-setengah mengikhlaskan apa yang dia putuskan. Mungkin karena rasa bersalah yang tidak akan tertebus sampai kapanpun.

Meskipun aku tidak tahu akan berakhir seperti apa, tapi seperti teman-temanku yang lain. Aku akhirnya memilih. Menetapkannya dalam kepala. Dan membiarkannya membatu di sana. 

Melukis adalah Pekerjaan Untuk Tetap Menjadi Waras


            Sungguh, untuk merampungkan tulisan ini saya berpikir berulang-ulang dengan cara memutar-mutar bola mata. Sembari melirik-lirik sebuah lukisan aneh di sudut jendela yang rapuh. Mungkin karena terlalu sering diselimuti debu. Lukisan aneh itu adalah buatan saya. Lukisan yang hingga kini saya benci, begitu juga dengan guru pelajaran seni yang masih saya hapalkan tiap inci wajahnya sampai hari ini. Guru yang menurut saya semena-mena menyamaratakan tingkat kreativitas setiap siswa di kelas dengan standarisasi yang dibuatnya sendiri.
            Berbicara kreativitas, saya bisa saja digolongkan sebagai orang-orang yang tidak kreatif. Apalah saya ini yang menggunting saja masih miring. Saya tidak bisa juga menggolongkan diri saya dalam kategori orang-orang penikmat kreativitas. Tidak, saya tidak tahu tepatnya. Yang saya tahu, saya senang mencampurkan warna di atas kanvas. Saya benci menggambar, namun saya selalu senang ketika disuruh melukis sesuatu. Meskipun lukisan yang saya buat tidak pernah dipuji berlebihan oleh orang-orang, tapi saya tetap menyukainya. Saya ingat ketika pertama kali menginjakkan kaki menjadi mahasiswa baru dan berjalan menuju ruang himpunan. Tiap kali ada senior yang bertanya saya senang melakukan apa, saya akan dengan lantang menjawab saya senang melukis meskipun gambar saya jelek. Mereka kadang tertawa. Tertawa karena jawaban saya aneh atau karena saya terlihat bodoh dengan jawaban seperti itu.
            Sepertinya hal lain yang harus saya lakukan selain membenci guru seni saya semasa SMA adalah saya juga harus berterima kasih pada beliau. Sebab tanpanya, saya tidak akan bisa merasakan membuat lukisan pertama. Tidak tahu bau cat ketika dicampurkan seperti apa. Tidak tahu bahwa melukis adalah salah satu jalan agar saya tidak menjadi gila. Tidak tahu bahwa selain menulis, melukis bisa membuat hati berbahagia dengan cara yang berbeda.
            Lukisan pertama saya hanyalah sekumpulan balon dengan warna seragam, dan satu balon dengan warna yang berbeda. Satu balon dengan warna yang berbeda itu terlepas dan terbang. Di atasnya, ada awan yang berwarna merah tembaga.  Dan tebaklah, lukisan yang saya kumpulkan sebagai syarat untuk ujian itu ditolak mentah-mentah hanya dengan alasan balonnya kurang bundar dan sedikit lonjong. Oh come on, sounds funny Sir. Bapak harusnya menilai bukan dari seberapa besar bundaran dalam balonnya, tapi seberapa sulit lukisan ini saya buat dengan susah payah selama beberapa hari. Tapi guru tetaplah guru. Maha besar beliau dengan segala aturannya. Lukisan saya dikembalikan dan harus diulangi lagi. Walhasil, jadilah lukisan abal-abal saya yang berada di sudut jendela ruang tamu terpampang dan ditatap oleh beberapa orang tamu yang pernah mengunjungi rumah saya di Sengkang.
            Lukisan pertama saya adalah cermin dari tingkat kreativitas saya yang demi apapun sulit untuk saya jelaskan pada tulisan ini. Saya amat sangat menyukai lukisan itu, melambangkan kebebasan. Sama dengan alasan mengapa saya memilih menulis dan melukis sebagai dua hal romantis yang berdampingan. Tidak perlulah saya mendapatkan kekasih yang pandai bernyanyi atau pandai menjemput dengan mobil sedan. Cukup yang mau menemani saya menumpahkan berbotol-botol cat hanya untuk mendapatkan lukisan terbaik yang kami buat bersama (atau lebih banyak dia, terserahlah).

            Jika Pram berkata “Menulis adalah bekerja untuk keabadian”, maka saya berkata “Melukis adalah pekerjaan untuk tetap menjadi waras”. Sebab saya mengalaminya, dan saran saya jika kalian sudah merasa sebentar lagi akan gila dan tidak tahu harus berbuat apa selain meratapi nasib, maka menulis dan melukislah.

SENGKANG DAN SATU HAL YANG PATUT DIKENANG


            Berbicara tentang Sengkang, berbicara tentang rumah tempat pulang. Ada begitu banyak tempat untuk singgah setelah melalui banyak hari dalam rahim ibu. Hingga mata mulai berani menantang dunia, perkenalan paling singkat akan disodorkan ibu tentang  bagaimana cara mengingat dan bagaimana cara belajar melupakan dengan cepat.
            Terakhir pulang menjenguknya, Sengkang hari ini ternyata sudah mulai tumbuh menjadi dewasa. Saya pikir masih kekanakan seperti dulu. Saya pikir masih banyak yang belum selesai dan sudah ditimbun duluan di situ. Oleh apa? Apalagi kalau bukan kaki-kaki penguasa dan tangan-tangan dingin orang-orang sekitar. Tapi Sengkang tetaplah Sengkang. Sedewasa apapun dia, akan tetap ada beberapa sisi yang menandakan bahwa dia pernah berada di umur kekanakan. Hingga saat ini.
            Saya akan menjadi anak yang gagap seketika saat seseorang datang dan bertanya tempat apa saja yang menarik di kampung halaman saya. Bukannya tidak ada, tapi karena terlalu banyak yang kemudian tidak bisa saya uraikan satu-satu dalam satu waktu. Halaman rumah merupakan  tempat paling menarik buat saya ketika pulang kampung. Lorong perumahan saya juga seperti itu. Sebab setiap saya pulang, akan selalu ada kucing-kucing baru yang muncul dan mengeong dengan keras di pintu samping saya.
Bercerita tentang kucing, tentu Kartono (kucing pertama yang membuat saya jatuh cinta) sudah tersenyum bahagia dan menua di surga. Dia lahir ketika hari kartini saat saya masih kelas 6 SD dan meninggal ketika saya masuk kuliah. Cukup lama memelihara Kartono membuat saya cukup mengerti dengan tingkah laku kucing ketika sedang patah hati, jatuh cinta, atau terluka. Kala itu Tono (atau Kartono) sedang jatuh cintanya pada seorang kucing betina yang warnanya biasa saja. Saat tahu kucing itu juga ada yang mendekati, Kartono menjadi patah hati dan malas makan (saya mengetahui ini ketika mengikutinya semalaman). Dia lebih senang tidur seperti kucing mati dan bermalas-malasan seperti kucing gemuk yang baru selesai memakan tikus busuk. Namun keesokan harinya, Tono membaik. Dia kembali mengejar kucing betina itu dengan ekor yang selalu berdiri tegak mengikuti langkah pujaannya dan dia bahkan sudah lupa untuk makan. Membuat tubuhnya menjadi semakin mengurus dengan tulang-tulang yang sudah mulai nampak. Saya benci ketika Kartono jatuh cinta. Dia menjadi jarang pulang ke rumah dan absen menggosok gigi sebelum tidur. Saya juga menyaksikan Kartono sedang terluka sehabis perang dengan kucing lain yang juga menyukai pujaan hatinya. Berlebihan memang, tapi kucing mau peduli apa?
            Hari itu, Sengkang mendung. Angin dingin berkunjung dan menggoyang-goyangkan pohon anggrek ibu yang mulai rapuh. Kartono pulang dengan luka menganga pada lehernya. Beberapa hari yang lalu, iya juga pulang dengan keadaan paha yang bocor. Namun lagi-lagi dari Kartono saya belajar, bahwa kucing bisa menyembuhkan lukanya sendiri dengan menjilatinya dengan liur dan itu tidak membutuhkan waktu satu minggu. Namun hari itu berbeda. Kali ini kutatap Kartono yang setengah mati ingin menjilati lehernya yang berlubang namun lidahnya tidak sampai. Apa boleh buat, saya kemudian berinisiatif untuk menuangkan minyak gosok ke lehernya dan berharap itu bisa sedikit membantu. Namun na’as, tiga hari kemudian Tono menghilang dan hari keempat bangkai kucing berbulu cokelat ditemukan tiga rumah dari rumah saya. Di akhir hidupnya, Kartono mengajarkan saya bahwa kucing yang mencintai pemiliknya tidak akan meninggal di rumahnya sendiri. Melainkan ia akan pergi jauh agar tidak membuat pemiliknya sedih dan merasa kehilangan meskipun kita semua tahu bahwa itu adalah hal yang mustahil dilakukan.
            Pulanglah dengan lugu.
            Masih ada pintu untukmu,
            Bahkan jika kau pulang telanjang malam-malam
            Saat aku sedang bertukar meong dengan kucingku
            (Joko Pinurbo, 2013. Surat Pulang)   
                Sepenggal puisi tadi  bisa jadi merupakan salah satu jalan pulang yang baik untuk kembali mengingat kenangan dan apa yang pernah tertinggal di kampung halaman.


Tentang Kepergian dan Hal-Hal Lain Setelahnya.


            Selamat memasuki bulan kemarau!
            Aku harus menuliskan itu sebagai pengingat bahwa saat ini memang sedang musim kemarau. Sengkang termasuk baik hati, karena tidak pernah tega membiarkan aku sendiri. Dari kota kecil ini (maksudku kota yang bahkan tidak akan pernah kau dapatkan namanya dalam peta) aku bahkan tidak pernah merasa benar-benar kering seperti apa yang harusnya orang-orang rasakan. Kepalaku benar-benar selalu basah. Hingga orang-orang di dalamnya, termasuk kamu yang baru saja pergi barangkali sudah bisa berenang di sana.
            Berbicara tentang kepergian, sebenarnya jujur saja aku sudah bosan menuliskan ini. Kalian tentu saja juga merasakan hal yang sama sepertiku. Jikalau aku mampu, suatu saat blog ini sepertinya akan berwarna abu-abu atau bahkan hitam. Dengan hujan di setiap katanya, dengan sedikit mendung di beberapa hurufnya. Saking sendunya setiap kisah yang dialami oleh seorang perempuan sepertiku.
            Ketika berada dalam sebuah pelatihan menulis, Agus Noor bertanya mengapa aku harus menulis. Jawabanku sederhana. Karena menurutku dengan menulis aku bisa membahagiakan diri sendiri meskipun kebanyakan yang tertuang adalah tulisan-tulisan sedih yang tidak tahu harus kuapakan selain kutuangkan. Kata Aan Mansyur, seorang penulis harus mampu terus menulis dan mengeluarkan tulisan-tulisan buruknya dalam kepala hingga terlahir sebuah tulisan yang dianggap layak atau bisa dikatakan bagus. Kurang lebihnya seperti itu ia mengatakannya. Mengacu pada hal tersebut, maka aku mencoba untuk menuliskan semua kisah sedih ini agar mereka keluar dengan baik-baik dan tidak menjadi kenangan yang selalu memaksaku untuk kembali ke tempat dimana semua ini mulai salah. Maka untukmu, aku mulai menuliskannya.
            Sudah berapa hari kita tidak saling kenal lagi? Barangkali seminggu. Atau dua minggu? Oh tidak tidak. Maksudku kita tidak saling kenal lagi atau kasarnya, aku yang sudah tidak mau mengenalmu lagi semenjak malam dimana semua kata-kata kasar berloncatan dari dalam kepalaku. Memaksa ibu jariku untuk mengetikkan pesan yang panjang-panjang buatmu. Pesan yang sejujurnya - seberapa panjang pun ia kutuliskan - tidak akan pernah mampu untuk menjelaskan semua duduk perkara kita hingga bisa menjadi seperti sekarang ini. Seperti orang asing untuk satu sama lain.
            Kalau kau mau berkata bahwa aku adalah seorang pendendam, maka silakan saja kau boleh melakukannya. Aku tidak pernah punya masalah dengan itu. Masalahku saat ini adalah karena kita harus selesai dengan akhir yang oleh kita bersama, sepakat dianggap sebagai akhir yang baik-baik saja. Sama seperti do’amu yang menyuruhku seperti itu. Do’amu baik, baik sekali. Tapi kenapa rasanya seperti irisan belati di tangan kiri?
            Oh ya aku lupa. Mungkin seperti itulah rasa terakhir dari setiap hubungan yang kandas karena tidak mampu lagi diperjuangkan. Pada akhirnya kami berakhir dengan alasan yang sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Tapi sudahlah, setiap orang memang punya caranya sendiri-sendiri untuk lebih menyakiti dan kemudian beranjak pergi. Meski tak lagi rapi, hidupku pasti beranjak pulih kembali, setidaknya seperti itulah yang selalu kuyakini untuk menegarkan diri sendiri. Meskipun kita semua tahu, ketika seseorang ditinggal pergi akan datang sesuatu yang kita sebut sepi. Seperti itulah sedikit cerita ketika berusaha berdiri tanpa mengenalmu lagi.

            Setelah berbicara tentang cinta dan kepatahatian yang menyakitkan dan sedikit berlebihan itu, mari kita bicara tentang kepulangan di kampung halaman pada tulisan berikutnya. Terima kasih sudah membaca dan berhati-hatilah pada sesuatu yang dinamakan cinta.

Perihal Menjadi Pacar Dan Sesuatu yang Mulai Hambar


            Selamat pagi, Mei.
Semoga hadirmu kian mempertegas banyak hubungan di luar sana.
            Termasuk yang satu ini.
            Ada banyak hal yang menarik untuk kutulis pagi ini setelah menghabiskan malam dan bertengkar hebat dengan seseorang dari masa lalu yang kembali datang dengan embel-embel masa depan. Sesuatu yang tidak jelas dan berbentuk abstrak atau sedikit abu-abu coba dia berikan titik terang yang sayangnya tidak mau kuterima. Lingkungan sosial memang turut menjadi penggagas paling baik untuk seseorang sepertiku kembali berpikir ulang untuk apa yang selama ini sudah kami perbuat.
Mencintaimu dan mencintaiku adalah sepasang kata yang dengannya, seseorang gemar sekali mengikat suatu hubungan. Ada yang serta merta saat itu juga, ada yang menunggu waktu atau dengan sedikit bumbu-bumbu klasik, mencari tanggal bagus. Aku tidak tahu, kalian mau setuju dengan apa yang kutulis atau tidak. Sejujurnya aku tidak peduli. Aku sudah muak membukakan terlalu lebar telinga untuk omong kosong di luar sana. Namun kemarin, selingan bisik-bisik dari sahabatku kembali membongkar semuanya. Tiba-tiba saja, aku berpikir dengan sangat buntu. Iya juga, selama ini kami bersama namun belum menjadi apa-apa hanya karena dia mencari tanggal yang menurutnya cantik. Sedikit menjijikkan, mengingat kami bukan lagi anak abg tahun kemarin yang harus selalu merayakan hari jadi hubungan tiap hari, bulan, dan tahun. Kami kepala dua dan dituntut oleh diri sendiri untuk memikirkan hal-hal ke depan.
Aku ingat sewaktu kecil senang sekali bermain layangan. Layangannya melayang di udara. Aku menarik-narik talinya di atas tanah. Namun tiba-tiba benangnya putus, barangkali karena terlalu tipis atau karena sudah bosan menunggu sesuatu yang melayang tak jelas arah kapan turunnya atau karena aku yang lupa mengikatnya terlebih dahulu. Aku tidak tahu. Maksudku waktu seumuran itu, aku tidak tahu alasannya putus karena apa. Baru setelah menginjak umur dua puluh, aku mulai kembali mengingat itu setelah sesuatu terjadi padaku. Menjalani sesuatu yang tidak tahu harus disebut apa adalah hal yang paling membosankan menurutku. Awalnya memang menarik. Ketahuilah, aku juga sosok perempuan yang senang bertemu dan melalukan sesuatu yang baru. Termasuk itu. Namun kupikir semakin ke sini semakin aku tidak mengerti arah sesuatu itu akan dibawa kemana. Kuakui, baiklah. Dalam  tulisan ini, terkhusus hanya di sini; aku memang sebuah produk dari Tuhan yang gemar sekali bosan dan melompat-lompat ke satu orang menuju orang yang lain ketika aku tidak menemukan alasan nyata mengapa harus tinggal. Atau karena tidak ada lagi yang mengharuskan aku tinggal. Atau karena pegangan seseorang mulai melonggar dan memberikanku sedikit celah dimana aku bisa bebas.

Aku tidak pernah memaksakan seseorang untuk terlalu cepat menyatakan kata-kata mutiara, khas kata-kata orang yang mau memiliki. Tidak. Semua orang punya caranya sendiri-sendiri. Aku mengerti. Tapi satu hal yang harus diwaspadai ketika menemukan orang yang mirip aku, kuncinya hanya satu. Jangan terlalu lama, sayangku. Sebab kau akan merasa jadi orang yang dipecundangi ketika seseorang yang kau pikir tabah dan baik-baik saja, pergi dengan alasan bosan karena tidak pernah diberi alasan untuk tetap tinggal; selain kalimat standar “Karena kita saling sayang”.

Untuk Seseorang Yang Sudah Pulang


       Aku tidak tahu apa-apa, atau maksudku aku hampir tidak tahu apa-apa tentang orang yang mengaku sangat mencintaiku itu. Semalam adalah pembicaraan yang ringan bersama sahabatmu, Masa depan. Darisitu pula aku juga baru paham bahwa setiap orang memang punya topengnya masing-masing. Ia bisa memilih watak yang mana yang akan ia perankan. Pembicaraan kami ringan dan tidak memakan banyak amarah. Hanya aku saja yang cukup terkesima ketika sahabatmu mulai bercerita tentang luka-luka yang berusaha kau tutupi di depanku. Aku tidak tahu kalau kamu adalah orang yang sangat terluka di dalam. Oke, baiklah. Aku tidak akan menjadikanmu pesakitan dalam cerita ini. Aku mencintaimu dan akan selalu begitu.
            Luka memang salah satu hal lain yang bisa membunuh selain patah hati. Hal lain selain jatuh cinta. Hal lain selain hujan yang ujungnya runcing-runcing. Kau harus mengerti, bahwa dalam tulisan ini aku harus mengucapkan terima kasih yang sangat. Karena rela menabahkan diri untukku yang kajili-jili. Karena sudah bersedia memegang tangaku ketika aku lupa bahwa hidup harus dijalani dengan perlahan. Karena sudah mau mengingatkanku untuk bernapas ketika aku mulai sesak dan lupa caranya menghirup oksigen dengan baik. Kamu betul-betul berharga. Kau tahu, aku semacam memiliki investasi masa depan haha, sudahlah. Tulisan ini sudah mulai merambah ke mana-mana. Tapi sepeti itulah yang kurasakan.
            Aku mencintaimu, maksudku kembali mencintaimu setelah setahun lalu telah menguburmu jauh dalam hati karena berpikir kamu tidak akan pernah datang sebagai apapun. Tapi sesuai julukanmu, masa depan. Tuhan mengirimkanmu di tempat yang tepat dan waktu yang sebenarnya salah namun mampu kau benarkan dengan caramu sendiri. Aku tahu, kau melalui jalan ini dengan sangat berbatu. Sesuatu terkadang datang dan membuatmu ingin menyerah. Sosok orang yang dulu kusuka selalu kau jadikan sebagai pembanding dirimu. Setiap saat kau selalu berkata padaku bahwa kau bukan siapa-siapa yang siap bertanding dengan orang yang kusukai itu. Tapi semalam, aku yakin bahwa kau adalah “siapa-siapa”.
            Kita memiliki banyak sekali perbedaan yang semakin ke sini semakin kau coba satukan. Kau adalah orang yang sangat membenci hujan dan segala yang berbau basah dan semalam di tengah hujan yang sedang lebat-lebatnya kau berkata karena telah mencintaiku kau akan mencintai juga apa yang aku cintai. Aku meyakinkanmu bahwa itu adalah hal yang tidak perlu kau lakukan. Menjadi kita tidak harus menyatukan segala beda yang ada. Tapi bagaimana kita saling mengingatkan satu sama lain bahwa hidup terlalu singkat jika hanya dilalui seorang diri. Seseorang mulai menggema-gemakan suara bahwa kita tidak sepantasnya bersama. Karena satu dan lain hal, aku menolak itu. Sebelumnya kuakui sangat sulit menumbuhkan bunga yang sudah pernah mati dalam taman yang ada bunga lain di dalamnya. Namun ternyata bunga itu begitu mandiri. Dia terus berkembang meskipun aku hanya menyiram bunga yang satunya. Hingga suatu ketika ia tumbuh besar dan kau tersenyum penuh kebahagiaan. Kau cukup bangga karena sudah membuktikan bahwa kau bisa tumbuh meski tanpa air dariku.
            Dalam tulisan ini, aku ingin mengadakan sebuah pengakuan kecil-kecilan. Bahwa untuk semua yang sudah kau korbankan dan sudah kita lewati, aku harus memberikanmu ucapan selamat karena berhasil menghapus sosok lain dalam hatiku. Orang yang tidak mampu kuraih meski dengan berbagai cara. Katamu, orang yang mencintaiku pada akhirnya akan menang dari orang yang pernah kucintai. Terima kasih untuk semua limpahan kasih sayang yang sudah kau berikan. Tetaplah begitu dan semoga kau mampu menghapus masa lalumu satu-satu. Masalah klasik yang selalu menjadi sumber pertengkaran kita setiap hari. Terima kasih karena sudah menghembuskan napasmu di sela-sela jemariku yang kedinginan setiap saat. Terima kasih karena sudah mau kurepotkan setiap harinya. Terima kasih karena tetap membuka pelukanmu ketika keanehanku satu-satu mulai bermunculan. Terima kasih karena rela membawaku ke tempat ayam lalapan yang sangat jauh demi melihatku makan dengan lahap. Maafkan aku karena pernah tidak mempercayaimu dengan sepaket rasa yang selalu kau berikan tiap harinya. Semoga sebentar lagi rumah yang kau buat segera jadi ya.

            Kini aku percaya, takdir Tuhan atas kita memang luar biasa. *itt

Empat Malam Menjelang Perayaan

Perayaan? Apa yang ada dibenakmu ketika itu selesai kau sebutkan? Apapun itu, aku harap bukanlah segala sesuatu yang penuh kemewahaan. Tulisan ini kubuat bukan untuk siapapun, melainkan untuk diri sendiri saja. Tetapi jika kau tiba-tiba mendapatkan anugerah kepekaan dari Tuhan, kau tepat. Ini buatmu. Sedikit tulisanku menjelang pergantian tahun kepala dua yang sebentar lagi menyerang. Aku sedikit benci, sejujurnya seperti itu. Tapi tidak akan lagi (aku janji), kalau permintaanku yang satu ini bisa kau penuhi.
            Kau tahu sendiri bukan, sebentar lagi aku kepala dua. Di usia yang menurut orang akan mulai beranjak dewasa itu, semua hal akan terjadi padaku. Pada usia dua puluhan, aku akan melihat kedua orang tuaku tersenyum menatapku memakai toga. Pada usia dua puluhan pula nantinya aku akan menikah. Semoga sebelum usia tiga puluhan, aku sudah menimang seorang anak. Ya, seperti kebanyakan perempuan idamkan. Kebetulan pikiranku sedari kecil memang sudah disusun seperti itu. Oleh siapa? Siapa lagi kalau bukan adat dan lingkungan tempatku besar. Sudahlah, berhenti membicarakan itu.
            Aku menuliskan ini ketika senja sebentar lagi menghilang dan malam yang semoga penuh bintang akan segera datang (itu juga kalau langit sedang tidak berdarah). Aku tahu kau akan segera bosan karena daritadi aku tidak mengarah ke topik utama kita. Baiklah.
Jadi begini. Aku ingin seseorang (yang semoga kamu) membawaku ketika malam perayaan itu datang. Aku ingin sesekali kau culik untuk menikmati kota yang katanya tidak tidur ini. Aku ingin kau menemaniku berjalan di trotoar, meminum bercangkir-cangkir teh dan tidak bosan-bosannya berbicara tentang kita yang fana, hingga subuh tiba dan kita tahu harus kembali kuliah. Aku ingin menikmati malam pergantian umurku dengan menggenggam tanganmu di bawah bintang. Tertawa terbahak seolah mengunci rapat mulut orang-orang yang di luar sana sedang sibuk menggunjingkan kita. Aku ingin kau bahkan lupa bahwa kita tidak sedang berstatus sebagai pasangan. Aku juga tahu bahwa itu semua hanya bisa dipendam. Karena kamu, tak akan pernah sadar bahwa ini kutuliskan sebagai kode-kode rahasia agar kau paham, betapa memarnya cinta yang selalu pura-pura ku iklhaskan.



Perihal Mimpi


               Selamat pagi.

            Aku tiba-tiba saja ingin menuliskan ini ketika pagiku diawali oleh musik-musik sendu dari Yiruma. Di luar sedang tidak hujan dan sedang cerah-cerahnya. Namun mendengar lagu Yiruma, membuat kepalaku serasa ditetesi air hujan. Basah sekali. Sesekali juga ada suara guntur, tapi tak ada petir. Jadi itu bisa masuk dalam kategori sesuatu yang dinikmatilah.

            Aku percaya semua orang punya mimpinya masing-masing. Mimpi adalah segala sesuatu yang kita percaya akan jadi nyata suatu saat nanti. Bukan hanya dimimpikan barangkali, tapi juga diusahakan. Merunut pada pengertian mimpi yang kusebutkan tadi, meskipun tidak ada yang pernah bertanya, aku akan mengakuinya dalam tulisan ini.

            Aku selalu memimpikan untuk memiliki sebuah cafe sendiri. Tempat itu akan menyediakan segala minuman hangat yang orang-orang butuhkan. Selain minuman, aku juga akan melengkapinya dengan roti roti lembut yang gemuk dan memiliki bermacam-macam rasa. Apa yang membuatku ingin memiliki cafe itu? Ya. Aku ingin tempat itu nantinya bisa menjadi tempat orang-orang menemukan inspirasi. Tempat orang-orang menangisi segala hal yang tak dapat mereka tahan untuk tetap berada di tempat semula. Nantinya, cafe itu akan dilengkapi dengan jendela transparan. Aku juga akan mengusahakan apapun agar nantinya jendela dari cafe itu akan menitikkan air. Kau tahu aku suka hujan yang romantis dan bau basahnya. Jadi tempatku nantinya akan seperti itu. Ketika malam hari tiba, aku akan membuat langit-langit cafe itu memancarkan cahaya bintang dan bulan yang kerlap-kerlip dan berputar kesana-kemari. Sembari memutarkan lagu-lagu Yiruma. Aku begitu menginginkan tempat itu nyata. Dan aku akan membuatnya. Barangkali sedikit  berlebihan dan terlalu bawa perasaan, tapi bukankah segala sesuatu yang menyenangkan berasal dari hati?


            Siapa tahu tulisan ini dibaca Tuhan. Dan betapa beruntung bila di sekeliling Tuhan, Malaikat juga berdiri dan mengaminkan ini. Terima kasih dan selamat memeluk mimpi!

Surat Untuk Kak Enal.

Makassar; abu-abu bulat putih. 8 Februari 2015.
Untuk kakak yang berurusan dengan kapal tapi mencintai sastra.

Selamat pagi dari hello 64, kak.
Selamat berhari minggu dengan teh atau kopimu.
Semoga kakak sehat dan tidak malas lagi, sehingga bisa menghadiri pelantikan pengurus ukm catur, hehe..

Aku menuliskan surat ini untuk sekadar mengulang beberapa kejadian yang lalu. Mengenal kakak beberapa tahun mungkin tidak akan pernah cukup. Kakak tentu masih ingat (kuharap begitu) pada malam setelah persembahan. Menjadi anggota baru dari ukm catur sungguh menyenangkan, bukan kak? Tentu. Sebab hanya sediikit dari kita yang mampu bertahan dalam dingin air laut pada pukul 2 pagi itu. Setelah malam persembahan, kita semua berjalan dan kakak bercerita bahwa kakak juga tertarik dalam dunia sastra. Menatap kakak, seakan menatap kembaranku. Sayangnya kakak berada dalam versi yang berbeda. Sedikit pendiam dan aku yang kajili-jili. Maafkan, kak.

Aku mulai senang bertukar cerita apa saja dengan kakak. Meski jarang bertemu. Tapi terima kasihku yang tak terhingga, karena kakak sudah mau menemaniku begadang saat menunggu seseorang. Terima kasih karena bersedia meminjamkan buku hebatnya. Terima kasih untuk segala baik yang tak henti-hentinya diberikan. Semoga kita tetap bisa berteman seperti ini, ya kak. Kakak harus tahu, betapa bersyukurnya aku berjumpa dengan orang seperti kakak.

Semoga harimu menyenangkan, kak.
Salam.

Berkomentarlah :)

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Follow by Email

Daily Calendar

Pengikut

Entri Populer

Google+ Followers

Total Tayangan Halaman

Mengenai Saya

Foto saya

Penerima kado-kado kecil Tuhan. Penggembira umat. Pemimpi selebihnya!